Bismillahirrohmanirrohiim…Assalamu’alaikum wa barakatuh.
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan jihad di jalan-Nya sebagai puncak yang paling tinggi dalam ajaran Islam. Saya memuji kepada Allah dengan pujian yang banyak untuk selamanya. Dan saya mengucapkan syukur kepada-Nya dengan syukur yang terus menerus sepanjang terus-menerusnya malam dan siang.
Saya bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah yang Maha Esa, dan tidak ada yang menyekutui-Nya. Sebagai penguasa, Dzat yang suci, Dzat yang memberi keselamatan.
Dan saya bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya sebagai tuan para manusia, imam para orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin para dai dan pejuang.
Allah telah mengutus beliau dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Kemudian Nabi menyampaikan dan mengajak kepadanya; memberi kabar gembira dan menakut-nakuti; memberi nasehat dan berjihad; sabar dan bersabar. Sehingga semua kehidupan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dihabiskan untuk berdakwah dan berjihad.
Semoga Allah mencurahkan shalawat salam dan berkah kepada beliau, kepada keluarga dan para sahabatnya yang telah menyerahkan dan mengerahkan semua harta dan jiwanya untuk berjihad di jalan Allah. Semoga Allah ridha terhadap mereka dan meridhainya. Ddan juga kepada orang-orang yang membawa bendera jihad di jalan Allah setelah para sahabat sampai Hari Kiamat.
Amma ba’du
Saudaraku yang berbahagia, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Para hamba Allah, ketahuilah bahwa termasuk hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah memberikan cobaan kepada beberapa hamba-Nya dalam kehidupan ini dengan adanya perkara yang saling berpasangan, benar dengan batil, bagus dengan buruk, iman, kufur.
Dan termasuk sunatullah adalah dia menjadikan sesuatu yang selalu berpasangan itu selalu berada dalam bentuk pertentangan dan kebalikan yang terus-menerus. Oleh sebab itu, menghentikan kezhaliman, keadilan dan kebajikan, merupakan sesuatu yang bersifat dharuri (mendesak dan harus dilaksanakan) di dalam kehidupan manusia. Dan semua itu tidak bisa tercapai kecuali dengan mengibarkan bendera jihad di jalan Allah serta mengibarkan tinggi-tinggi panji Islam untuk menegakkan kalimat Allah.
Saudaraku seiman yang saya cintai. . . jihad di jalan Allah merupakan puncak yang paling tinggi dalam Islam. Tingkatan jihad berada pada posisi oaling tinggi di antara beberapa iman yang lain.
Dengan jihad, kalimat Allah menjadi luhur, umat Islam menjadi mulia, masyarakat dan tempat tinggal mereka menjadi terjaga; berbagai kehormatan menjadi terpelihara, segala sesuatu yang di jaga menjadi terjaga dan aman, musuh-musuh Islam dipaksa untuk tunduk patuh, serta permusuhan sengit menjadi dibenci.
Dengan jihad, pengakuan terhadap perkara yang benar berada pada posisinya. Kezhaliman, kesewenang-wenangan, dan kejahatan menjadi terhapuskan. Keburukan, tipu daya, dan perseteruan dapat dibinasakan.
Jihad di jalan Allah merupakan ‘perdagangan’ yang selamat, ‘perniagaan’ yang menguntungkan, dan ‘komoditi’ yang menggembirakan. Dimana para pemiliknya berbuat ikhlas dapat terangkat derajatnya, dapat terangkat kedudukannya, dan dapat terangkat pula posisinya. Mereka itulah orang-orang yang luhur di dunia dan akhirat.
jihad dalam agama Islam telah memperoleh perhatian penuh. Coba lihat berpuluh-puluh ayat, bahkan beratus-ratus hadist shahih yang tidak diragukan lagi oleh orang yang memiliki kecerdasan, yang semuanya itu menganjurkan, mensupport, dan memotivasi kaum muslimin untuk berjihad. Serta menjelaskan pahala dan ganjaran yang akan diterima oleh para mujahid (pejuang) di jalan Allah, dan keluhuran yang akan diperolehnya sewaktu hidup di dunia. Sebagaimana ancaman keras terhadap orang yang condong kepada hal duniawi, merasa berat untuk berjihad dan lebih memilih tinggal dirumah, serta mengabaikan kewajiban yang mulia ini.
Imam Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan hadist dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.
“Barang siapa yang meninggal dunia namun belum pernah berperang dan belum pernah meniatkan dirinya untuk ikut berperang, maka ia mati dalam kondisi termasuk orang munafik”.
Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah juga meriwayatkan hadist dengan isnad yang shahih dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang tidak berperang, atau menyiapkan dirinya menjadi pejuang, atau meninggalkan tugas menjadi seorang pejuang, maka Allah akan menimpakan kepadanya suatu bencana sebelum kiamat datang.”
Semua itu wahai hamba Allah, hanyalah disebabkan karena meninggalkan kewajiban berjihad untuk mengalahkan para musuh dan hegemoni mereka terhadap umat. Para musuh Islam tersebut sangatlah keji dan biadab. Di antara kebiadaban yang mereka perbuat adalah dengan membunuh anak-anak kecil dari umat Islam, mengubur hidup-hidup mereka, menjadikan yatim anak-anak yang tidak berdosa, menghancurkan rumah-rumah, merampas kehormatan, memporak-porandakan kesucian umat.
Para musuh Islam ini tidak memelihara hubungan kekerabatan dan tidak pula mengindahkan perjanjian. Mereka tidak mau menjaga perjanjian maupun kehormatan. Dari situ akhirnya kehinaan merajalela dan menjadi-jadi. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang yang mukmin.” (Al-Munafiqun: 8)
Saudaraku seakidah yang dimuliakan Allah. . . sebenarnya, kita ini sebagai umat yang besar. Terkenal dalam kepahlawanan dan keberanian. Suatu umat yang kuat dan rela berkorban. Semboyan yang kita dengungkan adalah Allah Maha Besar, tidak ada tuhan selain Allah, serta kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang Mukmin.
Jihad yang dilakukan umat Islam selama berabad-abad yang lalu adalah untuk meninggikan kalimat Allah supaya kalimat Allah menjadi luhur dan kalimat orang-orang kafir menjadi hina. Kita adalah satu umat yang diturunkan kepada Rasul mereka firman Allah.
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah kepada mereka. Tempat mereka adalah neraka jahanam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (At-Tahrim: 9)
Dan juga firman, “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.” (Al-Furqan: 52)
Allah juga menurunkan firman-Nya kepada umat Islam “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj: 78)
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan)kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (Al- Ankabut: 69)
Maka dari itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam walaupun sebagai seorang qudwah (panutan) umat ini dalam hal iman, dakwah, dan jihad, juga ikut andil secara langsung dalam berperang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah, yang seperti ini tidak pernah di saksikan secara langsung pada umat lainnya. Bahkan sejarah pun tidak pernah melihat adanya keberanian seperti keberanian Muhammad bin Abdullah, yang bersabda, “Demi dzat yang diri Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya. Andaikata tidak memberatkan kaum muslimin, maka selamanya aku tidak akan pernah duduk dibelakang para pasukan (tidak akan pernah meninggalkan) perang di jalan Allah. Demi dzat yang diri Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku berharap dapat ikut berperang di jalan Allah kemudian aku terbunuh, kemudian aku ikut berperang lag lalu terbunuh, kemudian aku berperang lagi lalu terbunuh”.
Semua itu disebabkan apa wahai umat yang berjihad dan mau mengorbankan diri? Wahai para pengikut Nabi yang membawa rahmat, membawa petunjuk dan idaman, tidak lain hanyalah karena keagungan posisi jihad dalam agama ini, keluhuran perjuangan, dan keagungan derajat mereka baik didunia maupun di akhirat. Allah telah menjanjikan kepada para mujahid di jalan Allah dengan beberapa tempat yang tinggi di surga.
Di dalam Ash-Shahih, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat 100 derajat yang Allah menjanjikan darinya kepada orang-orang yang berperang di jalan Allah. Setiap dua derajat jaraknya bagaikan antara langit dan bumi”.
Allahu Akbar, demi Allah yang Maha Agung wahai saudaraku. Sesungguhnya jihad di jalan Allah memiliki dampak yang penting di dalam mengangkat umat Islam, menjayakan umat ini di atas kebenaran, dan berjalan dengan landasan dan manhaj yang indah di depan umat-umat lain.
Di samping jihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah, mengusir kezhaliman dan kebatilan, pengkhianatan dan permusuhan, jihad di jalan Allah juga akan berlangsung sampai datangnya kiamat. Yaitu, jihad dengan pengertian yang lebih luas, mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk menegakkan kalimat Allah subhanahu wa Ta’ala dengan medium pena dan lisan, dengan pedang dan mata lembing, dengan hati dan mata hati, dan dengan segala perasaan.
Maka dari itu, setiap orang Islam wajib menjadi mijahid di jalan Allah. Sebab berperang di jalan Allah merupakan tanda-tanda orang beriman, dan orang yang meninggalkan jihad termasuk tanda-tanda kemunafikan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak berperang, atau menyiapkan dirinya menjadi pejuang, atau meninggalkan tugas menjadi seorang pejuang, maka Allah akan menimpakan kepadanya suatu bencana sebelum kiamat datang”.
Kaum muslimin yang berbahagia, wahai para mujahid. . .kita wajib bergerak untuk membantu kebenaran dan memusnahkan kebatilan. Sekarang ini negera-negara Islam dihantui para musuh Islam. Mereka ingin mengebiri kemampuan dan kesucian negara Islam. Para musuh Islam ingin sekali memperoleh pemeluk dan kebaikan dari negara Islam. Mereka ingin berbuat kerusakan di muka bumi. Allah berfirman, “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka dan Allah tetap menyempurnakan cahay-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaff: 8)
Wahai kaum muslimin . . kalian wajib mempersiapkan diri untuk berjihad di jalan Allah. Tidak asing wahai muslimin apabila pada sebagian umat ini tertimpa dengan berbagai mala petaka, berbagai macam bencana, dan kejadian yang luar biasa. Akan tetapi yang aneh adalah apabila kalian lemah dan diam saja atau kalian menjadi hina. Allah telah menggariskan pada umat Islam dengan kemenangan dan kekuatan dalam firman-Nya, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali-Imran: 139)
Wahai para pengikut Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Wahai cucu para pemimpin dan pejuang, hendaknya di dalam jihad kalian mempunyai teman yang baik untuk mengejar kehidupan yang mulia di dunia dan memperoleh ganjaran serta pahala di akhirat kelak. Sebab jihad termasuk jenis amal shaleh terpenting yang wajib diperhatikan oleh seluruh kaum muslimin. Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga kepada mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111)
Alangkah mulianya perdagangan tersebut. Alangkah mahal sekali harganya, sebagaimana yang dikatakan Al-Hasan Al-Bashri, “Allah telah membeli diri orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan memberikan harga yang sangat mahal.”
Apakah setelah surga ada harga lain yang lebih mahal wahai para hamba Allah?
Dalam sebuah hadist di sebutkan, “Ingatlah bahawa dagangan Allah itu mahal. Ingatlah bahwa dagangan Allah itu berupa surga.” Dalam hal ini Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang berfirman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, ‘berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah’ kamu merasa berat dan ingin tinggel ditempat kamu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah: 38-39)
Wahai seluruh umat Islam, sungguh umat Islam pada masa ini telah tertimpa berbagai bencana. Dari yang berupa iri hati, dengki, penjajahan sampai permusuhan, baik yang nyata maupun yang samar-
Dalam sebuah syair, seorang penyair mengatakan:
“Andaikata satu anak panah, maka aku aka menghadapinya
Akan tetapi hujaman beberapa anak panah lainnya.
Kaum kafir telah menjajah Islam dengan kelaliman
Berlama-lama terhadap agama yang menangis keras.
Hak yang terabaikan dan nafsu yang diperbolehkan
Pedang yang di tebas dan darah yang mengalir.
Adakah para wanita muslimah di setiap bumi menjadi tawanan?
Dan penghidupan muslimin akan menjadi baik?
Bukankah bagi Allah da Islam memiliki hak?
Yang dibela oleh kaum muda dan orang tua?
Maka katakanlah kepada orang yang memiliki pengetahuan di mana mereka berada
Penuhilah seruan Allah, celakalah kalian jika tidak memenuhi seruan-Nya.”
Kita tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi itu semua kecuali dengan mempersiapkan semua keperluan untuk berjihad di jalan Allah guna mengagungkan nama Allah, menolong orang yang teraniaya dan terzhalimi, melawan orang yang berbuat aniaya, serta menolak orang-orang yang berbuat melewati batas syariat Islam.
Begitulah yang wajib diperbuat oleh seorang muslim. Jiga begitulah yang semestinya dikerjakan seorang mukmin yang mengaku Allah sebagai Tuhan, yang mengaku Islam sebagai agama, dan mengakui bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai
nabi dan utusan Allah.
Wahai kaum muslimin, wahai kaum mukminin, wahai orang-orang yang berjihad, demi Allah, kehinaan pada umat ini tidak akan sirna kecuali dengan mengibarkan tinggi-tinggi panji jihad di jalan Allah.
Dalam sejarah, umat Islam tidak jaya dan unggul dalam setiap abad kecuali dengan mengangkat bendera jihad di jalan Allah. Kedudukan dan posisi umat Islam tidak akan hina dan lemah, kehormatannya tidak akan di jajah, kecuali jika menyia-yiakan kewajiban jihad di jalan Allah.
Ketika umat Islam mau mengangkat panji jihad, maka sama sekali kezhaliman pada suatu negara atau di antara para hamab, tidak akan mempunyai tempat untuk dijadikan sebagai lahan subur.
Oleh karena itu wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tempuhlah metode yang sangat mulia ini yang telah digariskan oleh agama kalian dan telah dianjurkan oleh Nabi kalian, baik secara ucapan maupun perbuatan.
Sebenarnya umat Islam adalah umat yang penuh dengan watak kepahlawanan, watak jihad, serta mau berkorban. Sejarah tak mampu mencatat watak kepahlawanan seluruh umat selain umat Islam. Kita termasuk umat yang sepanjang sejarahnya mampu menghimpun berbagai tokoh terkemukan dari para pejuang dan mujahid Islam. Senisal Abu Bakar Radhiyallahu Anhu. Ia berkata pada hari yang penuh dengan kemurtadan, “Demi Allah, andaikata para kafir melarangku dengan suatu ikatan yang kemudian mereka menghadapkan kepada baginda Nabi, sungguh aku akan membunuh mereka atas pelanggaran mereka terhadap Nabi.”
Khalid bin Walid dengan gelarnya Saifullah (pedang Allah) mengatakan, “Aku telah mengikuti sebanyak lebih dari 100 pertempuran. Tidak ada sejengkalpun dalam tubuhku kecuali terdapat tusukan tombak maupun tusukan anak panah. Dan sekarang aku terbaring kaku di atas tempat tidurku. Maka mata-mata orang penakut tidak pernah bisa tidur.”
Kita adalah sebuah umat yang para pahlawannya telah menggoreskan agenda hebat dalam jihad di jalan Allah. Seperti Mush’ab bin Umair,Sa’d bin Abi Waqqas, Al-Qa’qa’bin Amr, Abu Ubaidah, Usamah bin Zaid, Shalahuddin, Qutaibah bin Muslim, Thariq bin Ziyad, dan Uqbah bi Nafi’ yang berdiri tegak ditepi laut seraya berkata, “Demi Allah, andaikata aku mengerti kalau di seberang laut sana terdapat manusia, maka aku akan menyelami lautan ini sebagai mujahid di jalan Allah.”
Allahu Akbar, inilah lembaran-lembaran yang putih. Inilah pahlawan-pahlawan yang hebat, telah digariskan dalam firman-Nya.
“Diantara orang-ornag mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23)
Maka dari itu, hendaknya kita menjadi sebaik-baik orang terakhir dengan mencontoh sebaik-baik orang terdahulu.
Untuk menjalin perniagaan dengan Allah – wahai kaum muslimin – dan untuk mencapai perniagaan yang menguntungkan – wahai orang-orang kaya, anda di tuntut untuk ikut berpartisipasi menanam saham dan berpacu memperoleh keberuntungan. Marilah ikut berjihad – wahai umat Islam, dengan menggunakan harta benda dan jiwa kalian.
Ingatlah jeritan-jeritan saudaramu yang berada di Palestina, Afghanistan, Kashmir, Chechnya, dan Bosnia. Juga beberapa panggilan saudara kandungmu dari mulut-mulut mereka yang berada di segala penjuru dunia. Sebelum dan sesudah itu semua, yakni panggilan Tuhanmu terhadap kalian dengan seruan untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sukakkah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari ahzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” (Ash-Shaff: 10-11)
ya Allah dirikanlah tinggi-tinggi panji dan bendera jihad. Tundukkanlah dan jadikanlah hina orang-orang yang lalim, kufur, dan berbuat kerusakan. Tebarkanlah rahmat-Mu kepada para hamba, wahai Dzat yang memiliki dunia dan akhirat, dan kepada_nyalah tempat kemabli.
Semoga Allah memberi berkah kepada saya dan atas apa yang ada di dalam Al-Qur’an. Semoga Allah memberi manfaat kepada kita semua dengan petumjuk tuan bagi para utusan. Semoga Allah menjadikan saya pribadi dan kalian termasuk hamba-hamba-Nya yang berjihad dan menjadi golongan-Nya yang beruntung.
Saya akhiri tulisan ini dengan meminta ampunan kepada Allah untuk diri saya pribadi, untuk kalian semua dan untuk sekalian kaum muslimin dan muslimat. Memohonlah ampunan kepada Allah, karena sesungguhnya Dia adalah Dzat yang Maha Pengampun dan yang Maha Penyayang.
“Subhaanakalloohumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Sumber: http://islammenjawab.multiply.com



Posting Komentar