“Jika belum pernah ber-Jihad, jangan menganjurkan Jihad”.
Jika kita cermati dibalik kata tersebut ternyata tersembunyi maksud untuk meredam Jihad. Jika ulama-ulama, ustazd-ustadz, tidak menganjurkan Jihad,
Segala macam dalil yang dikutip, dan argument yang disusun, jika jawab dengan singkat “tidak pernah ada seorang ulamapun yang menghukumi seseorang yang mengajurkan Jihad sebagai munafiqun”. Tidak pernah ada. Tidak dijaman dahulu dan tidak sekarang.
Metode penghakiman yang ditetapkan pada sikap seseorang menggunakan metode “analisa” tidak bisa diterima. Analisa hanya mampu merambah wilayah-wilayah “Dhohir”. Analisa tidak mampu menjangkau wilayah batin.
Sikap manusia tidak bisa dihipotesakan. Kemudian dari hipotesa kita tetapkan dia munafiq atau Kafir. Penetapan Munafiq atau kafir pelanggarannya harus jelas.
Dalil-dalil yang dikutip dari Al Qur’an hanyalah kamuflase untuk menutupi maksud yang tersembunyi agar seolah-olah bertujuan meluruskan sesuatu yang bengkok.
Padahal jika dikuti justru semakin lebih bengkok
Allah langsung menganjurkan sendiri dalam Qur’an tentang jihad. Sampai dimana kesanggupan kita melaksanakan maka keputusannya terserah Allah.
Bisa menjalankan lebih bagus dibandingkan yang menganjurkan, bisa menganjurkan lebih bagus dari pada yang diam, yang Diam masih ada yang selapis tipis lebih lebih jelek dibanding yang diam yaitu kaum yang ingkar.
BEBERAPA AYAT AL-QUR'AN TENTANG JIHAD
1. "Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Dan bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagimu. Dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)
"kutiba" artinya "furidha" (diwajibkan), sebagaimana tersebut dalam firman Allah pada saat yang sama dan menggunakan susunan kalimat yang sama pula.
2. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orangorang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan dimuka bumi atau mereka berperang, 'kalau mereka tetap bersama kita, tentu mereka tidak akan mati dan tidak akan dibunuh.' Akibat (dari perkataan dan kebodohan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. Dan sungguh kalau kamu gugur dijalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik bagimu dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah kamu semua dikumpulkan." (Ali Imran: 156-157)
"Dharabu fil ardhi" artinya: keluar untuk berjihad. "Ghuzzan" artinya: bertempur. Perhatikan keterkaitan antara ampunan dan rahmat Allah terhadap kematian dijalan Allah pada ayat 157. Ampunan dan rahmat itu tidak terdapat pada ayat berikutnya, sebab bukan berkaitan dengan gugur dan mati di jalan Allah. Pada ayat tersebut juga terkandung maksud bahwa kepengecutan adalah sifat orang kafir, bukan sifat orang beriman.
3. "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka dan mereka bergembira hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka yang belum menyusul, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati ." (Ali Imran: 169-170) Selanjutnya bacalah pula sampai ayat 175.
4. "Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang dijalan Allah, lalu gugur dan memperolah kemenangan, maka kelak akan kami berikan kepadanya pahala yang besar." (An-Nisa: 78) Selengkapnya anda dapat membaca
5. Surat Al-Anfal secara keseluruhannya merupakan amjuran untuk berperang dan perintah untuk tabah menghadapinya. Demikian pula terhadap penjelasan tentang berbagai hukum yang berkaitan dengan peperangan. Oleh karena itu, orang-orang mukmin generasi awal menjadikan
Sampai pada firman-Nya,
“Hai nabi, kobarkanlah semangat orang-orang mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang kafir, sebab orang-prang kafir itu tidak mengerti." (A;- Anfal: 65)
6. Surat At-Taubah secara keseluruhanya merupakan anjuran perang dan penjelasan mengenai hukum-hukumnya. Cukuplah bagi anda dengan firman yang menjelaskan tentang perang terhadap orang-orang musyrik yang berkhianat. "Perangilah mereka, niscaya Allah menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakkan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha bijaksana." (At-Taubah: 14-15)
Firman Allah tentang perang terhadap orang-orang ahli kitab,
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang yang telah diberi Al-kitab, sampai mereka mau membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (At-Taubah: 29)
Selanjutnya Allah menyerukan serangan umum pada ayat ayat berikutnya,
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau merasa berat, dan
berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (At-Taubah: 41)
“Jika belum pernah berjihad, jangan menganjurkan
jihad....”
Adalah upaya meredam Jihad, bentuk pengingkaran atas perintah Jihad.



Posting Komentar