Jumat, 21 November 2008

MAJU TAK GENTAR MELAWAN MONOGAMI DEMI MENYELAMATKAN CALON MAMI YANG BELUM PUNYA SUAMI...!!!

Terus terang Kuncen blog ini secara naluriah mau juga sih poligami...tapi kok belum punya nyali yaaa...!? saat ini rasanya lebih bagus di keroyok anjing sekampung masih menjadi pilihan kuncen dari pada poligami, tapi jika Allah. SWT berkehendak kenapa Tidak...!? maju terus pantang mundur, sambil nyanyi lagu yang judulnnya maju tak gentar


Oleh karena kuncen blog ini belum punya nyali...sekalian latihan mental untuk mompa energi keberanian untuk tidak dikatakan nekad, maka kuncen blog copas habis2san tulisan ini dari http://www.poligamiindonesia.com/ sebagai lanjutan dari tabloidnya yang pernaaah numpang alamat di tempat kuncen sayang tidak laku di jual karena layoutnya mirip layout film2 india...campuran antara norak & lucu, kebetulan ketiga gembong situs tersebut bukan orang asing buat kuncen, apa lagi yang satu pada deratan paling bawah...pemilik perusahaan invisible trading yang bisa dagang apapun, dari baut atau mur sebesar kuman sampai dengan yang sebesar kapal induk....!? bahkan orang sedang berdiri ngelamun pun laku dijual...!


SEBUAH JAWABAN BAGI MEREKA YANG MENOLAK POLIGAMI

Oleh : Nike Amelia Az

Mengapa Rasulullah berpoligami? Cara alasan-alasannya lewat dalil-dalil syar'ie, kitab-kitab atau bertanya pada para ulama. Mengapa para sahabat dan ulama-ulama salaf berpoligami? Cari alasan-alasan mereka dalam kitab-kitab dan buku-buku sejarah. Barangkali alasan dan latar belakang Rasulullah dan para sahabat itu berpoligami itu sama dengan apa

Atau bisa kita mencari tahu, mengapa Bung Karno berpoligami? Cari tahu alasan beliau. Siapa tahu motivasi dan alasan dia berpoligami bisa diterima oleh istri Anda. Atau cari tahu alasan-alasan dari tokoh-tokoh seperti Puspo Wardoyo yang pengusaha, Aa Gym yang ustad dan juga pengusaha, Malik Bawazir yang pengacara, AM Fatwa dan Zainal Ma'arif yang politikus dan masih banyak tokoh dengan berbagai profesi yang berpoligami. Siapa tahu diantara motivasi dan alasan mereka berpoligami bersesuaian dengan pribadi Anda.

Pada asalnya, syariat Islam mendorong hubungan di antara 2 orang atau di antara paling banyak 4 istri dengan seorang suami. Al Qur'an menetapkan "jika kamu tidak dapat berbuat adil hendaknya kamu mengambil satu orang saja". Hubungan poliginis, yang dibatasi pada 4 orang saja, merupakan jalan keluar baik bagi sekelompok orang yang mempunyai problem biologis maupun ekonomis. Poligini diantara seorang laki-laki dengan 2-4 orang istri yang sudah dikenal dengan baik, jelas hampir tidak menimbulkan resiko STD (Sexually Transmitted Deaseses). Bila poligini dipersulit, sebagian dari laki-laki akan memuaskan kebutuhannya dalam prostitusi. Sementara kita semua tahu, bahwa prostitusi adalah penyebab STD yang paling besar, karena prostitusi mengandung implikasi promiskuitas. Jika laki-laki dibatasi dengan 4 orang istri maka perempuan dibatasi dengan ‘iddah yang juga mencegah terjadinya promiskuitas. Menurut Survey, mengembangan AIDS & STD lebih banyak terjadi di negara-negara yang anti poligami.

Kembali kepada kasus Aa Gym, wajar saja jika popularitas Aa Gym akan turun saat ini karena masyarakat kita adalah masyarakat sekuler, yaitu masyarakat yang memisahkan agama dari kehidupan. Islam hanya ditaruh dipojok-pojok masjid dan dilemari-lemari buku. Islam tidak difahami lalu diamalkan, tetapi dimengerti lalu dilupakan. Mereka (kaum anti poligami) itu semua tahu bahwa poligami hukumnya MUBAH, tetapi akal-akal dan emosi telah menyelimuti hati dan pikiran mereka hingga pandangan mereka jauh dari apa yang telah dikatakan oleh Allah dan RasulNya. Mereka yang melarang poligami lebih mementingkan kepentingan dirinya atau kelompoknya yang hampir semuanya bermasalah. Sekali lagi, poligami adalah solusi dan pilihan bagi kaum prempuan, TIDAK BISA disunahkan atau diharamkan!


ALASAN-ALASAN MEREKA YANG MENOLAK POLIGAMI

1. Ayat Poligami sudah dimansukh oleh QS An Nisa:129, yang menyatakan bahwa tidak ada manusia yang mampu berbuat adil

2. Rasulullah tidak menikah lagi ketika Sydh.Khadijah masih hidup

3. Poligami Rasulullah = menikahi janda2 tua

4. Poligami menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga

5. Menurut Survey, Poligami merendahkan dan menindas kaum perempuan dan bahwa sekarang ini laki-laki dan perempuan sama jumlahnya

6. Poligami hanya untuk melampiaskan nafsu sex semata

7. Rasulullah pernah melarang Imam Ali Bin Abi Thallib berpoligami

8. Poligami adalah adat arab kuno yang mau dihapus oleh Islam secara bertahap

9. Poligami lebih banyak mudharatnya

10. Poligami harus diharamkan berdasarkan al-maqashid al-syar'iyyah (tujuan syarak)


PENOLAKAN 1: Ayat Poligami sudah dimansukh oleh ayat Annisa 129 : "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Jawabannya:

Adil disini bukan "JUST", tapi akal sehat karena kalau definisi adil = keadilan Tuhan, atau keadilan Nabi SAW. Maka tidak akan ada ke'adil'an didunia ini apalagi sudah dipastikan oleh al Qur'an diatas bahwa manusia tidak bisa pernah adil.

Lalu bagaimana dengan wajibnya 2 orang saksi adil untuk thalaq kalau tidak ada manusia yang mampu melakukannya? Kalau 1 orang saja, tidak bias lalu kenapa Allah SWT mewajibkan kita mencari 2 orang saksi adil? Mana mungkin ada 1 ayat yang bertentangan dengan yang lainnya? Islam sangat menganggap penting keberadaan saksi pada segala urusan yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak (hak orang lain), diantaranya masalah hutang piutang, cerai, zina dan lainnya. Sehingga, kalau memang manusia tidak bisa adil maka, harusnya tidak berlakulah seluruh ayat yang memakai ayat adil, padahal kita jelas-jelas memerlukan keadilan.

Definisi saksi adil dalam al Qur'an adalah berakal sehat, mampu mengambil keputusan sebagai manusia normal, dan menjalankan syariat sesuai dengan kemampuannya. Adil dengan syarat yang dipersulit bisa membuat kesaksian orang Islam semuanya gugur. Menurut Imam Ja'far ash Shodiq as, ayat "kamu tidak akan mampu berbuat adil walaupun kamu mau" berlaku dalam hal perasaan atau kecenderungan kasih sayang. Rasulullah saw misalnya jelas lebih menyayangi Khadijah daripada 'Aisyah hatta setelah Khadijah meninggal dunia. Rasulullah lebih mencintai 'Aisyah daripada yang lainnya (menurut hadis-hadis Sunni) dan lebih mencintai Ummu Salamah dan Zainab daripada Aisyah dan Hafshah (menurut Syiah).

Definisi saksi adil dalam Alquran adalah sepert dalam ayat ke delapam surat Al Maidah : "Hai orang-orang yang beriman orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Al Maidah : 95. "Hai orang-orang yang beriman orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". Al Maidah : 106, "Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: "(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa". Ath Thalaq : 102, "Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan 2 orang saksi yang adil diantara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Menurut Ibn Katsir, Saksi adil dalam QS Al Maidah 95 & 106 adalah seluruh orang Islam dan dalam QS Ath Thalaq: 2, definisi saksi adil adalah orang yang percaya kepada Allah, hari akhir dan takut kepada siksa Allah

Maka adil disini jelas tidak sama dengan keadilan Tuhan atau keadilan Nabi. Apalagi Nabi SAW juga cukup lelah dgn beberapa istrinya yang berakhlaq buruk (ref: QS AT-Tahrim 2-3)

Kalau dilihat dari ayat QS 4: 3, maka ayat Poligami adalah ayat yang jelas bolehnya Poligami secara MUTLAK. Kalimat itu selesai dengan sempurna dan berdiri sendiri. Selanjutnya dimulai dengan kalimat baru ( kalaam musta'niif) dengan makna baru yang bersyarat. Ibnu Abbas berpendapat bahwa ayat 4 Annisa ini berkenaan dengan hal cinta kasih sayang dan jima'. Sehingga Allah SWT telah mewanti-wanti kepada para suami bahwa mereka tidak akan dapat berlaku adil dalam masalah cinta kasih sayang dan jima'. Maka tidak ada kewajiban untuk berlaku adil karena manusia tidak sanggup berlaku adil dalam perkara ini.

Adapun perintah agar seorang suami berlaku adil kepada istrinya adalah perintah berlaku adil seperti dalam masalah fisik, nafkah, menggilir & menyantuni mereka, pakaian, tempat tinggal dll. Atau keadilan sebatas kemampuan dan potensi diri suami yang telah mengerahkan segala kemampuan dan potensi dirinya. Sedangkan larangan condong terlalu berlebihan bukan berarti condong kepada salah seorang istri. Tapi kecondongan berlebihan yang kepada salah seorang istri sehingga yang lain terkatung-katung dan terdzalimi. Oleh karena itu, pengertian QS an Nisaa' 4 tersebut adalah "jauhilan sikap condong yang berlebihan (atau kecondongan mutlak) kepada salah seorang istri kalian"


PENOLAKAN 2 : Rasulullah tidak menikah lagi ketika Sayyidah.Khadijah ra masih hidup

Jawabannya:

Kalau Nabi SAW tidak menikah ketika bersama Khadijah as, itu karena Khadijah memiliki semua kemulyaan wanita pada zaman itu. Khadijahlah yang menghabiskan harta, waktu, tenaga dan pikirannya untuk dakwah Rasulullah. Beliau adalah symbol kesempurnaan perempuan. Dalam sejarahpun Sydh. Kadijah tercatat sebagai slah satu wanita suci. Lagi pula, kita harus mengikuti sunnah, bukan semata-mata hadis. Rasulullah menikahi Khadijah dan tidak menikahi wanita lain pada waktu Khadijah hidup, adalah hadis. Bukan sunnah. Kalau itu dijadikan sunnah, maka semua bujangan harus mulai nikah dengan janda dulu, sampai janda itu meninggal dunia. Yang disebut sunnah adalah definisi hadis plus "alladzi yashluhu an yakuuna daliilan syar'iyyan" (yang tepat digunakan sebagai dalil syarak). Nabi diriwayatkan lahir di Mekkah pada tahun Gajah. Itu hadis. Kalau ini Sunnah maka semua perempuan muslimah yang hamil harus pergi ke Mekah dan melahirkan anaknya di sana dan harus hamil pada tahun Gajah. Sekarang yang sering kita dengar ada tahun monyet, ular, babi, dsb. Bagaimana?


PENOLAKAN 3 : Poligami Rasulullah SAW hanya menikah kepada janda-janda tua saja

Jawabannya :

Tidak benar Nabi SAW hanya menikah kepada yang tua saja karena justru yang tua, hanya 1 orang, Ummu Salamah binti Abu Umaiyah al Mughirah, yang memang janda yang lebih tua dari Rasulullah SAW tapi berwajah cantik dan berakhlak mulia. Istri-istri nabi lainnya muda-muda, seperti: Zainab binti Khuzaimah, Aisyah bin Abu Bakar, Hafshah bin Umar, Juwayriyah binti al Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin Harb, Saudah binti Zam'ah bin Qais, Zainab binti Riab, Maimunnah binti al Harits bin Hazn Shafiyah bin Huyai bin Akhtab yang Yahudi dan Maria al Qibtiyah yang Nashara dll. Mereka semua muda dan cantik. (Tapi ingat bahwa cantik disini sifatnya, "relative")


PENOLAKAN 4: Poligami menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga

Jawabannya:

Kekerasan dalam rumah tangga juga terjadi dalam pernikahan monogamy. Bahkan tingkat perceraian yang diikuti dengan KDRT, lebih banyak terjadi dalam pernikahan monogamy lebih banyak dibanding dengan poligami.


PENOLAKAN 5: Menurut Survey, Poligami merendahkan dan menindas kaum perempuan dan bahwa sekarang ini laki-laki dan perempuan sama jumlahnya

Jawabannya:

Sejak kapan Survey dipakai untuk menerapkan suatu aturan agama? Justru poligami menyelamatkan kaum perempuan. Dengan poligami, kaum perempuan mempunyai hak sebagai istri dan dalam hak reproduksi. Jika poligami dilarang, maka perzinahanlah yang paling marak dan melahirkan perempuan dan anak yang telantar. Kenyataan imperis, pelaku pelecehan dan penindasan terhadap kaum perempuan adalah kaum perempuan sendiri, dengan melarang suaminya menikah lagi. Artinya bukan poligami yang merendahkan kaum perempuan tapi istri pertamalah perlaku pertama yang merendahkan kaum perempuan karena dia tidak mau suaminya bertanggung jawab atas hubungannya dengan wanita lain.


PENOLAKAN 6: Poligami hanya untuk melampiaskan nafsu sex semata

Jawabannya:

Motivasi pernikahan bukan hanya untuk sexual saja, karena kalau kita hanya melihat dari sisi itu maka hampir semua pernikahan kembalinya kepada hal tersebut. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah menjaga diri dari melanggar batas yang sudah ditentukan oleh Allah SWT, seperti perzinahan, onani, lesbian, homosexual dan lain-lain. Ngerti ora..?


PENOLAKAN 7 : Rasulullah saw pernah melarang Imam Ali Bin Abi Thallib berpoligami.

Jawabannya :

Ada segelintir orang yang memlintir suatu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang kisah Ali bin Thallib yang pada saat itu telah menjadi menantu Rasulullah saw dan Rasulullah bersabda: "tidak aku izinkan, tidak aku izinkan, tidak aku izinkan, kecuali Ali rela menceraikan putriku dan menikahi putrinya Abu Jahal. Sesungguhnya Fathimah adalah darah dagingku, menyenangkanku apa yang menyenangkannya, menyakitiku apa yang menyakitinya".

Kalau kita lihat sampai disini memang benar Rasulullah saw melarang poligami yang dilakukan oleh Imam Ali as. Sehingga hadits ini sering dijadikan hujjah oleh sekelompok orang-orang yang mengharamkan poligami. Lihat kenapa Rasulullah melarang? Mana mungkin Rasulullah melanggar ayat Allah SWT?

Lanjutan dari sabda Rasulullah saw adalah: "Sungguh aku tidaklah mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram. Akan tetapi, demi Allah, tidak akan putri Rasulullah berkumpul dengan putri musuh Allah SWT dalam suatu tempat selama-lamanya". Artinya Rasulullah SAW telah mengetahui bahwa poligami itu mubah tapi pelarangan Beliau kepada Ali as bukan perintah untuk pengharaman poligami melainkan untuk tidak mengumpulkan puti Rasulullah SAW dengan putri musuh Allah SWT dibawah lindungan Imam Ali as.

Alasan kedua, bagi kami kaum Syi'ah, yang tidak kalah penting adalah hadist ini TERBUKTI DHAIF karena tidak mungkinlah Imam Ali as mau menikahi sembarang perempuan, apalagi dia anak Abu Jahal. Akhlaq Imam Ali yang mulia, pasti memilih perempuan untuk melanjutkan perjuangan da'wah Islamnya. Karena itu setelah Sayyidah Fathimah as wafat, Imam menikah lagi dengan mujahidah mulia, Ummu Banin, yang semua anak-anaknya syahid menjadi pembela Imam Hussayn as di KARBALA.


PENOLAKAN 8 : Poligami adalah adat arab kuno yang mau dihapus oleh Islam secara bertahap.

Jawabannya:

Atas dasar apa Islam akan menghapuskan sebuah ayat hanya karena kesalahan tehnis pelakunya? Ayat al Qur'an yang suci ini, berlaku sejak zaman Nabi saw sampai hari kiamat. Tidak ada satu manusiapun yang mampu merubahnya.


PENOLAKAN 9: Poligami lebih banyak mudharatnya.

Jawabannya :

Dampak Negatif berpoligami:

* Mendapat tekanan social (masyarakat menganggap buruk pelakunya)

* Mendapat tekanan legal ( bagi peg, negeri: poligami dilarang)

* Mendapat tekanan ekonomis ( diperlukan biaya besar untuk memadu)

* Kadang bias mendapat tekanan politis

Dampak Positif berpoligami:

* Terhindar dari maksiat dan zina

* Meperbanyak keturunan

* Melindungi para janda, perawan tua dan kelebihan perempuan

* Kebutuhan sex suami terselesaikan saat istrinya melahirkan, haid, sakit, uzur dll

* Istri terpacu untuk melakukan yang terbaik bagi suaminya karena ada yang lain

* Melatih kesabaran dan menekan egoisme

* Anak yang dilahirkan menpunyai legal formal

* Status yang jelas bagi bagi perempuan

Lalu mana yang lebih banyak mudharatnya?

Jika kita menolah poligami:

§ Pengingkaran terhadap hukum Allah SWT

§ Maksiat dan zinah merajalela

§ Ketertindasan perempuan

§ Anak-anak lahir tanpa status yang jelas, sehingga nafkahnya dan ahk warisnya terabaikan

§ Aborsi dimana-mana

Sebab Istri takut dipoligami:

§ Kehilangan cinta dan kasih saying suami

§ Membayangkan kemesraaan suami dengan madunya

§ Takut harta benda suami akan berpindah pada madunya

§ Berprasangka buruk dan curiga yang berlebihan

§ Cemburu kepada anak-anak madunya

§ Takut hak warisnya berkurang

§ Takut ditinggalkan suami


PENOLAKAN 10: Poligami harus diharamkan berdasarkan al-maqashid al-syar'iyyah (tujuan syarak).

Jawabannya:

Akan saya tunjukkan kesalahan mereka yang keberatan bahwa poligami adalah pelanggaran semua al-maqashid al-syar'iyyah adalah sbb:

1. Dengan melarang poligami akan terjadi promiskuitas tanpa aturan agama. Orang menyalurkan seksnya pada pasangan yang berganti-ganti, yang tidak halal. Penelitian empiris menunjukkan bahwa berbagai penyakit fatal seperti Aids dan STD lainnya subur pada masyarakat yang antipoligami. Dengan begitu pelarangan poligami melanggar prinsip al-muhaafazhah 'alan nafs (yang lebih baik diterjemahkan sebagai menjaga kehidupan).

2. Bila poligami dilarang akan berkembang pernikahan sirri, istri-istri simpanan yang tidak diperlakukan dengan tanggungjawab. Nanti terjadi masalah dalam keturunan mereka. Begitu pula kalau tidak menikah tetapi kumpul kebo misalnya. Anak yang lahir tidak terpelihara dan tidak diakui bapaknya. Ini melanggar almuhafazhah 'al aln nasl (menjaga keturunan).

3. Bila poligami dilarang, poligami akan dilakukan diam-diam. Hak pemilikan istri pada harta suaminya tidak akan bias dipenuhi. Begitu pula, kalau org bergaul lebih dari satu orang istri tanpa menikah, mereka tidak mendapat jaminan ekonomis apa pun baginya dan bagi keturunannya. Ini pelanggaran pada prinsip al-muhaafazhah 'alal amwal (menjaga harta).

4. Tanpa poligami yang bertanggungjawab, akan terjadi pelecehan pada kehormatan perempuan, dan kita sudah melihat banyak contoh orang-orang disekitar. Ini melanggar prinsip al-muhaafazhah 'alal 'ardh (menjaga kehormatan).

5. Terakhir, menghapuskan poligami akan banyak membuat orang kehilangan akal sehatnya, depresi, kecemasan, dan berbagai mental-disorder. Jadi ini melanggar prinsip al-muhaafazhah 'alal 'aql. (menjaga kewarasan akal)


POLIGAMI, GAYA HIDUP TERBAIK KAUM FEMINIS

Oleh: Elizabeth Joseph

Saya sering menyatakan seandainya poligami itu tidak ada, maka para wanita karir Amerika yang akan mengada-kannya. Sebab, di luar pandangan buruk yang ada, poligami adalah sebuah pilihan gaya hidup yang menawarkan ruang kesempatan yang nyata bagi para wanita karir untuk “meraih semua impian”.

Salah seorang yang saya kagumi adalah Dr. Martha Hughes Cannon, beliau adalah seorang dokter yang juga berstatus sebagai istri kesekian di dalam keluarga poligami, yang pada tahun 1896 merupakan wanita pertama yang menjadi anggota dewan di parlemen Amerika Serikat saat itu. Suatu saat dia pernah mengatakan, “Anda menunjukkan pada saya seorang wanita (karir) yang hanya memikirkan hal-hal selain memasak, mencuci, dan merawat bayi, dan saya akan tunjukkan pada anda 9 dari 10 wanita yang sukses adalah ibu rumah tangga”. Tanpa mengurangi rasa hormat, Gloria Steinem (aktivis perempuan) tidak ada apa-apanya dibanding dengan Dr. Cannon.

Sebagai wartawati, saya dituntut untuk bekerja dengan banyak waktu yang tidak dapat ditentukan. Berita telah mengatur hidup saya. Dan adakah saya menghubungi rumah dan memohon suami untuk menjemput anak-anak dan memanaskan makanan buat mereka serta menyuruh mereka tidur jika saya harus pulang larut malam? Karena saya hidup dalam keluarga poligami, maka saya tidak perlu merasa khawatir. Saya tahu bahwa jika saya harus kerja lembur, maka putri saya akan berada di rumah dikelilingi orang-orang dewasa yang penuh kasih sayang di mana ia merasa nyaman dan mereka juga mengetahui jadwal putri saya tanpa harus saya jelaskan. Putri saya yang berusia 8 tahun itu tidak pernah melihat tempat penitipan anak dan suami saya tidak pernah menyantap makanan luaran.

Saya tahu bahwa saat pulang kerja, jika saya sangat lelah dan stress berat, saya dapat menenangkan diri dan terbebas dari rasa bersalah (tidak mengurus keluarga). Sangat jarang terjadi di mana 8 istri dari suami saya mengalami lelah dan stress pada waktu yang bersamaan.

Akan sangat membantu jika kita memandang poligami dalam pengertian “pendekatan pasar bebas” dalam perkawinan. Mengapa tidak boleh mengambil kesempatan untuk menikah dengan pria terbaik tanpa memandang status pernikahannya? Saya menikah dengan pria terbaik yang saya temui. Meskipun dia telah mempunyai 5 istri hal itu tidak mencegah saya untuk tidak menikahinya. Selama kurang lebih duapuluh tiga tahun lamanya saya mengamati bagaimana perkawinan Alex dengan Margareth, Bo, Joanna, Diana, Leslie, dan Delinda telah memberi nilai lebih pada pernikahan kami. Pria ini telah memiliki banyak sekali pengalaman dalam menangani masalah yang berhubungan dengan perkawinan, dan hasilnya, ia menjadi seorang suami yang sangat handal.

Bukan merupakan tanda tanya bagi saya mengapa Alex juga mencintai istri-istrinya yang lain. Saya justru khawatir kalau dia tidak demikian. Saya pernah merasa risau mengenai Delinda, saat itu ia adalah sekretaris saya ketika saya bekerja sebagai pengacara di Salt Lake City. Alex sering berkunjung ke kantor saya selama beberapa bulan, namun anehnya dia tidak pernah berkomentar apapun mengenai Delinda. Akhirnya ketika dalam perjalanan pulang kerja saya bertanya padanya, “Mengapa kamu tidak berkomentar apapun tentang Delinda?”. Dia menjawab, “Memangnya kenapa?”. Saya katakan, “Dia itu cerdas dan cantik. Ada apa, kamu sengaja bersikap bodoh di depanku?”. Akhirnya beberapa bulan kemudian mereka pun menikah.

Poligami merupakan gaya hidup yang memberdayakan potensi kaum wanita. Poligami menyediakan lingkungan dan kesempatan bagi saya untuk memaksimalkan potensi kewanitaan saya tanpa harus bertukar dan berkompromi seperti yang terjadi di dalam perkawinan monogami. Para istri dalam keluarga saya adalah para sahabat. Anda mustahil berbagi waktu dua dekade menjalani hidup, dan seorang suami, tanpa merasakan bahwa persahabatan yang ada sangatlah istimewa.

Saya membayangkan bahwa di luar Amerika ada sekumpulan wanita muda yang sedang bersiap meniti karir. Mereka duduk mengelilingi meja-meja berdiskusi tentang gaya hidup yang ideal bagi mereka yang sejalan dengan keinginan mereka berkenaan dengan pekerjaan, tangung jawab ibu rumah tangga, dan pemenuhan keinginan mereka secara individu. Mereka berkhayal, “Akankah saya mendapatkan pria yang baik?”. Atau “Bisakah saya mendapat suami seperti yang saya idamkan?”. Sesuatu yang tidak mereka sadari adalah bahwa telah ada sebuah alternatif yang dapat dengan sekaligus mewujudkan secara bersama-sama semua impian mereka. (Mereka dapat berbagi seorang laki-laki yang mereka pandang ideal untuk dijadikan suami bersama dan selanjutnya bekerja sama saling membantu untuk mencapai impian mereka masing-masing—red)

Alternatif tersebut adalah poligami, gaya hidup terbaik bagi kaum feminis. Oleh: Elizabeth Joseph

Saya sering menyatakan seandainya poligami itu tidak ada, maka para wanita karir Amerika yang akan mengada-kannya. Sebab, di luar pandangan buruk yang ada, poligami adalah sebuah pilihan gaya hidup yang menawarkan ruang kesempatan yang nyata bagi para wanita karir untuk “meraih semua impian”.

Salah seorang yang saya kagumi adalah Dr. Martha Hughes Cannon, beliau adalah seorang dokter yang juga berstatus sebagai istri kesekian di dalam keluarga poligami, yang pada tahun 1896 merupakan wanita pertama yang menjadi anggota dewan di parlemen Amerika Serikat saat itu. Suatu saat dia pernah mengatakan, “Anda menunjukkan pada saya seorang wanita (karir) yang hanya memikirkan hal-hal selain memasak, mencuci, dan merawat bayi, dan saya akan tunjukkan pada anda 9 dari 10 wanita yang sukses adalah ibu rumah tangga”. Tanpa mengurangi rasa hormat, Gloria Steinem (aktivis perempuan) tidak ada apa-apanya dibanding dengan Dr. Cannon.

Sebagai wartawati, saya dituntut untuk bekerja dengan banyak waktu yang tidak dapat ditentukan. Berita telah mengatur hidup saya. Dan adakah saya menghubungi rumah dan memohon suami untuk menjemput anak-anak dan memanaskan makanan buat mereka serta menyuruh mereka tidur jika saya harus pulang larut malam? Karena saya hidup dalam keluarga poligami, maka saya tidak perlu merasa khawatir. Saya tahu bahwa jika saya harus kerja lembur, maka putri saya akan berada di rumah dikelilingi orang-orang dewasa yang penuh kasih sayang di mana ia merasa nyaman dan mereka juga mengetahui jadwal putri saya tanpa harus saya jelaskan. Putri saya yang berusia 8 tahun itu tidak pernah melihat tempat penitipan anak dan suami saya tidak pernah menyantap makanan luaran.

Saya tahu bahwa saat pulang kerja, jika saya sangat lelah dan stress berat, saya dapat menenangkan diri dan terbebas dari rasa bersalah (tidak mengurus keluarga). Sangat jarang terjadi di mana 8 istri dari suami saya mengalami lelah dan stress pada waktu yang bersamaan.

Akan sangat membantu jika kita memandang poligami dalam pengertian “pendekatan pasar bebas” dalam perkawinan. Mengapa tidak boleh mengambil kesempatan untuk menikah dengan pria terbaik tanpa memandang status pernikahannya? Saya menikah dengan pria terbaik yang saya temui. Meskipun dia telah mempunyai 5 istri hal itu tidak mencegah saya untuk tidak menikahinya. Selama kurang lebih duapuluh tiga tahun lamanya saya mengamati bagaimana perkawinan Alex dengan Margareth, Bo, Joanna, Diana, Leslie, dan Delinda telah memberi nilai lebih pada pernikahan kami. Pria ini telah memiliki banyak sekali pengalaman dalam menangani masalah yang berhubungan dengan perkawinan, dan hasilnya, ia menjadi seorang suami yang sangat handal.

Bukan merupakan tanda tanya bagi saya mengapa Alex juga mencintai istri-istrinya yang lain. Saya justru khawatir kalau dia tidak demikian. Saya pernah merasa risau mengenai Delinda, saat itu ia adalah sekretaris saya ketika saya bekerja sebagai pengacara di Salt Lake City. Alex sering berkunjung ke kantor saya selama beberapa bulan, namun anehnya dia tidak pernah berkomentar apapun mengenai Delinda. Akhirnya ketika dalam perjalanan pulang kerja saya bertanya padanya, “Mengapa kamu tidak berkomentar apapun tentang Delinda?”. Dia menjawab, “Memangnya kenapa?”. Saya katakan, “Dia itu cerdas dan cantik. Ada apa, kamu sengaja bersikap bodoh di depanku?”. Akhirnya beberapa bulan kemudian mereka pun menikah.

Poligami merupakan gaya hidup yang memberdayakan potensi kaum wanita. Poligami menyediakan lingkungan dan kesempatan bagi saya untuk memaksimalkan potensi kewanitaan saya tanpa harus bertukar dan berkompromi seperti yang terjadi di dalam perkawinan monogami. Para istri dalam keluarga saya adalah para sahabat. Anda mustahil berbagi waktu dua dekade menjalani hidup, dan seorang suami, tanpa merasakan bahwa persahabatan yang ada sangatlah istimewa.

Saya membayangkan bahwa di luar Amerika ada sekumpulan wanita muda yang sedang bersiap meniti karir. Mereka duduk mengelilingi meja-meja berdiskusi tentang gaya hidup yang ideal bagi mereka yang sejalan dengan keinginan mereka berkenaan dengan pekerjaan, tangung jawab ibu rumah tangga, dan pemenuhan keinginan mereka secara individu. Mereka berkhayal, “Akankah saya mendapatkan pria yang baik?”. Atau “Bisakah saya mendapat suami seperti yang saya idamkan?”. Sesuatu yang tidak mereka sadari adalah bahwa telah ada sebuah alternatif yang dapat dengan sekaligus mewujudkan secara bersama-sama semua impian mereka. (Mereka dapat berbagi seorang laki-laki yang mereka pandang ideal untuk dijadikan suami bersama dan selanjutnya bekerja sama saling membantu untuk mencapai impian mereka masing-masing—red)

Alternatif tersebut adalah poligami, gaya hidup terbaik bagi kaum feminis.

*Tulisan ini diterjemahkan dari situs http://www:poligamy.com.

Dari pidato yang disampaikan oleh Elizabeth Joseph pada acara “Menciptakan Dialog: Wanita Bicara pada Wanita”, sebuah kenferensi yang diadakan oleh NOWU. Elizabeth adalah seorang pengacara, wartawati, dan tinggal di Big Water, Utah. (Mei 1997).

*Tulisan ini diterjemahkan dari situs http://www:poligamy.com.

Dari pidato yang disampaikan oleh Elizabeth Joseph pada acara “Menciptakan Dialog: Wanita Bicara pada Wanita”, sebuah kenferensi yang diadakan oleh NOWU. Elizabeth adalah seorang pengacara, wartawati, dan tinggal di Big Water, Utah. (Mei 1997).


POLIGAMI ADALAH HAK DAN KEBUTUHAN PEREMPUAN

Oleh Purwanti (Istri Pertama)

Selama ini masyarakat memiliki pandangan, kalau ada perempuan mau jadi istri kedua dikesankan dengan istilah ‘merebut suami orang’. Ada pula yang beranggapan dia sebagai ‘perempuan yang tak laku’. Yang lebih parah lagi, adanya aturan kalau seorang perempuan, terutama pegawai negeri sipil (PNS) mau jadi istri kedua, ketiga atau keempat harus mendapat ijin atasannya. Bahkan dalam PP 45/1990, ditetapkan wanita PNS tidak diperbolehkan sama sekali menjadi istri kedua, ketiga atau keempat. Kalau nekat berarti harus keluar atau dipecat, karena dianggap pelanggaran besar.

Al Quran secara tegas dan jelas membolehkan adanya poligami (An Nisa : 3). Kebolehan itu bisa disimpulkan bahwa perempuan lajang berhak untuk memilih suami atau pria yang sudah beristri. Hak perempuan ini sejalan dengan realitas sosial dan sunatullah, yang mana perempuan lebih banyak dari laki-laki. Dalam sebuah hadist disebutkan : Anas bin Malik berkata : Aku akan sampaikan hadist yang tidak disampaikan oleh siapapun setelahku bahwa aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Salah satu tanda terjadinya kiamat adalah sedikitnya ilmu, tersebarnya kebodohan dan perzinahan, banyaknya jumlah wanita dan sedikitnya laki-laki sehingga setiap 50 (limapuluh) wanita ditanggung oleh seorang laki-laki. (HR Bukhari).

Hak perempuan untuk memilih pria beristri menjadi suaminya yang diharapkan mampu memimpin hidup di jalan Allah perlu disosialisasikan dan dipahami oleh kaum perempuan, baik mereka yang sudah bersuami maupun yang sedang memilih atau mencari calon suami. Mungkin ada yang menilai, pandangan aneh begitu kok perlu disosialisasikan. Ya, memang benar hal-hal baru dan bisa jadi merupakan kebenaran, pada awalnya sering dianggap aneh. Padahal, dalam kehidupan di masyarakat kita sering menjumpai begitu banyak perempuan yang sampai usia menjelang senja masih belum mendapatkan suami. Di antara mereka termasuk perempuan terpelajar yang sukses meniti karir. Mereka butuh pria yang bisa menjadi suami, yang mampu memimpin hidupnya di jalan Allah. Itulah sebabnya, poligami merupakan hak dan kebutuhan perempuan ini perlu senantiasa di-pahamkan kepada banyak kalangan. Sehingga kelompok-kelompok pembela kaum perempuan seharusnya menghimbau kepada laki-laki yang mampu untuk mau berbagi dengan perempuan lain.

Bila kaum perempuan yang sudah bersuami memahami hal ini, dirinya tidak akan kecewa jika suatu waktu suaminya mendapat tugas baru untuk memimpin perempuan lain yang membutuhkan kepemimpinannya. Kaum wanita harus menyadari, itulah ladang beramal yang merupakan kebutuhan untuk berbagi, sebagai manifestasi atau wujud kesalehan sosialnya. Sebaliknya kaum perempuan yang belum bersuami dan yang membutuhkan kepemimpinan pria, jika kebetulan pilihannya jatuh pada pria yang sudah beristri, ia juga akan siap berbagi dan menghormati perempuan lain yang juga dalam pimpinan calon suaminya.

Pemahaman bahwa poligami merupakan hak dan kebutuhan perempuan akan menumbuhkan jiwa toleransi sesama perempuan, semangat untuk mau berbagi dan kebersamaan dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan di muka bumi. Pemahaman ini juga akan memberi motivasi kepada para laki-laki untuk lebih berprestasi, sebab dorongan untuk berbagi itu kelak justru akan muncul dari suara hati wanita.


FENOMENA PERAWAN TUA

Oleh Ustazah Khadijah Aam

Suatu penyakit sosial yang sedang menyusahkan sebagian besar masyarakat hari ini adalah masalah perawan tua. Apapun penyebab terjadinya masalah ini, namun hakekatnya ia sudah wujud dan telah menjadi realitas yang menyayat hati. Membiarkannya begitu saja tanpa berusaha menyelesaikannya seperti membiarkan orang sakit tanpa diobati. Ini adalah satu kekejaman.

Kita jarang menemukan laki-laki yang belum menikah ketika umurnya telah mencapai 30 tahun lebih. Tapi sering kita jumpa perempuan yang belum menikah walaupun sudah berumur lebih dari 30 tahun. Sedangkan keinginan menikah adalah satu kehendak fitrah yang murni yang kalau tidak dipenuhi, manusia akan mengalami satu tekanan dan kekosongan jiwa yang berterusan. Pikiran akan terganggu. Malu pada ejekan masyarakat akan menyempitkan dada. Rasa sunyi dan kara kekosongan sering melanda. Hari tuanya dilihat begitu kosong dan amat menyusahkan. Bagaimana rasanya jika Anda yang mengalaminya.

Salah satu tanda akhir zaman adalah jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Ini disebut dalam hadist. Dan itulah yang sedang terjadi kini. Di seluruh dunia keadaan inilah yang terjadi dan akan terjadi terus. Bahkan akan lebih kronis dari waktu ke waktu. Dunia modern yang penuh dengan kaum intelektual ini seharusnya sudah memikirkan apakah langkah-langkah praktis untuk mengatasi ketidakseimbangan jumlah perempuan dengan laki-laki. Supaya semua perempuan terbela dan bahagia karena dapat mempunyai suami dan anak-anak.

Siapa saja yang mempunyai sifat kemanusiaan yang tulen, pasti akan simpati dengan perawan tua. Sebab walaupun ia nampaknya tidak hilang pertimbangan dan tidak melakukan maksiat, tapi hatinya menderita. Batinnya menjerit juga. Sekalipun ia wanita yang sabar, namun harapan atau desakan untuk menikah akan sering mengganggunya. Siapa mau susah? Tentu tidak ada. Oleh karena itu mencari jalan untuk menyelesaikan masalah ini telah menjadi kewajiban kita semua.

Wanita Barat sudah memilih kehidupan liar sebagai cara untuk mengisi kehendak biologisnya. Mereka menjual tubuh dengan murah kepada sembarang laki-laki. Mereka tidak memikirkan untuk menikah, sebab institusi pernikahan dan rumah tangga sudah tidak perlu bagi mereka. Mereka boleh mencintai sepuluh laki-laki dalam satu waktu dan melakukan hubungan dengan laki-laki mana saja atau suami siapa saja yang mereka sukai. Suami cuma pinjaman, boleh ada boleh tidak. Boleh datang dan pergi. Boleh tidak ada keluarga. Karena tidak ada undang-undang yang melarang berbuat seperti itu.

Itulah cara hidup Barat dan mereka

merasa bahagia seperti itu. Sanggupkah kita seperti itu? Sanggupkah kita membiarkan saudara seagama jadi seperti itu? Percayalah tidak ada kebahagiaan dalam melanggar perintah Tuhan. Tidak ada ketenteraman dengan melakukan kemungkaran.

Sejahat apapun wanita Islam, namun keinginan berumah tangga tetap ada. Ingin mempunyai suami yang sah, yang diakui oleh masyarakat serta mempunyai anak-anak secara halal dan suci.

Apakah jalan keluar yang sebaik-baiknya untuk masalah ini? Saya tidak melihat cara lain yang lebih baik dibanding poligami. Walaupun pahit untuk diakui oleh sebagian pihak, namun hanya itulah caranya untuk menghiburkan duka lara sebagian kaum wanita. Meski pahit, namun tidak sepahit menjadi perawan tua sepanjang waktu. Dan tidaklah segelap kehidupan perempuan jalanan, yang suaminya hanyalah pinjaman, dapat datang kemudian hilang.

Pahitnya poligami adalah pergiliran ujian dan nikmat. Suami meninggalkan merasa rindu, nanti pulang bersama kasih sayang. Sejahat-jahatnya suami, masih juga memikirkan tanggungjawab pada rumah tangga dan anak-anak. Tidaklah sampai tidak tahu ke mana hendak mengadu. Bertengkar ada, berbaik-baik juga ada. Bila tua ketahuan juga rumah tangga dan anak cucunya. Ada masa depan seperti orang lain. Sementara kehidupan perawan tua atau perempuan yang melacurkan diri itu nasibnya gelap pekat. Jauh lebih parah dan lebih malang daripada wanita yang berpoligami. Laki-laki yang menggunakan pelacur bukan orang yang mau bertanggungjawab atas dirinya dan anaknya.

Laki-laki yang tidak bertanggungjawab itu cuma mau menghibur hatinya sesat. Setelah itu wanita itu akan ditinggalkannya tanpa ada rasa simpati atau tidak ada ikatan apa-apa. Sebab itu, perawan tua, apalagi yang menjual diri, tidak tahu kemana pergantungan hidup mau ditujukan. Sedangkan wanita poligami tahu siapa laki-laki yang diminta pertanggungjawaban hidupnya dan anaknya, yaitu suaminya.

Saya paham tentang adanya perawan tua yang rela tidak menikah daripada merampas suami orang. Baguslah kalau begitu, asalkan jangan alim kucing saja. Sebab dalam sejarah cuma ada seorang yang bahagia tanpa menikah dengan menolak pinangan Imam Hasan Al Basri. Ia adalah Rabiatul Adawiyah. Cintanya pada Allah menakutkannya untuk menikah. Takut kalau-kalau terganggu urusannya dengan “kekasihnya” itu. Cintanya pada Allah telah membunuh nafsunya pada laki-laki. Sehingga dengan tidak menikah itu sedikitpun tidak menyusahkannya. Tapi wanita lain yang hubungannya dengan Allah agak lemah, bila tidak menikah akan menimbulkan bermacam-macam masalah. Dia akan lebih selamat bila berpoligami daripada tidak menikah sama sekali.

Pejuang-pejuang perempuan yang selalu meluangkan hasrat ingin membela nasib perempuan, seharusnya yang paling depan dalam memperjuangkan langkah ini. Buktikan bahwa kita rela berkorban untuk perjuangan menegakkan keadilan untuk semua. Dan kita sendiri tidak dapat atau tidak sanggup, itu artinya perjuangan kita bermotif untuk mencari kepentingan diri. Kalau begitu untuk apa kita meminta orang lain mengikuti jejak kita? Sebab perjuangan yang hak itu faedahnya untuk semua, bukan untuk sekelompok orang saja. Relakah pejuang kebebasan wanita (women’s liberation) memberi peluang suami mereka berpoligami untuk membela nasib perawan tua.

SOAL POLIGAMI, MARI BERTANYA PADA NURANI

Poligami dalam Islam adalah rahmat Allah yang besar. Tapi sayangnya, sebagian orang dimasa sekarang menolaknya dengan keras. Penetrasi pemikiran (fikroh) sekuler, liberalisme dan feminisme telah mengaburkan pemahaman tentang poligami dalam Islam. Akhirnya, sebagian orang secara membabi-buta menolak poligami.

Sebelum memahami persoalan poligami, sudah sewajarnya kita mempelajari definisi, sejarah dan tujuan poligami itu sendiri. Tidak hanya pandai menolak dan gebyah-uyah mendangkalkan kebaikan yang ada pada poligami itu sendiri. Dengan pemahaman yang memadai, diharapkan dukungan dan penolakan terhadap poligami benar-benar lahir dari sebuah jawaban rasional.

Selain istilah poligami, dikenal istilah poligini. Poligini adalah menikahi wanita lebih dari satu dalam waktu bersamaan. Poligami memiliki makna yang sama dengan poligini. Perbedaannya, dalam poligami jumlah wanita yang boleh dinikahi dibatasi. Sedangkan poligini tidak membatasi jumlah wanita yang boleh dinikahi. Kebanyakan orang hanya mengenal poligami tanpa mengetahui bahwa istilah poligami hanyalah turunan dari istilah poligini. Sehingga poligini yang sering dilihatnya, dikiranya poligami. Bagi orang yang berlatar belakang pendidikan Matematika dan Hukum, mereka memandang penting perbedaan definisi ini.

Selain soal batasan jumlah wanita yang boleh dinikahi, perbedaan poligini dan poligami lebih banyak menyangkut maksud dan tujuan diberlakukannya poli-poli tersebut. Poligini muncul bertujuan untuk menyalurkan libido lelaki yang secara fitrah memang lebih besar daripada libido kaum hawa. Bukan kemauan para lelaki memiliki libido besar, tapi ‘sudah dari sononya' begitu. Secara biologis, produksi sperma manusia berlangsung terus menerus tanpa henti sejak akil baligh hingga ajal menjemputnya. Sedangkan produksi ovum perempuan bisa beristirahat tiap bulannya (menstruasi). Bahkan perempuan memiliki masa menapause.

Perempuan patut bersyukur bisa melakukan haid untuk mengeluarkan sel telurnya yang tidak dibuahi. Tanpa diniatkan dan nafsu apapun, haid akan berlangsung dengan sendirinya. Tak ada wanita kebeled haid, seperti kencing. Sedangkan lelaki hanya bisa mengeluarkan sel spermanya melalui dua cara: onani dan sex. Ada dentuman hormon, emosi dan jiwa yang memaksa sperma dikeluarkan. Jika ditahan, penyakit kelenjar prostat siap menanti. Bersyukurlah wahai para wanita!

Sedangkan poligami memiliki maksud mengatasi persoalan sosial yang muncul dari poligini; yaitu kehormatan, keturunan, dan keadilan. Pertama, mengangkat kehormatan perempuan menuju perikatan suci yaitu pernikahan. Kedua, menjaga silsilah keturunan dan masa depan keturunan deri persoalaan budaya, sosial, dan ekonomi. Ketiga, menegakkan keadilan ekonomi dan biologis diantara para perempuan yang dipoligini.

Sejarah peradaban manusia diwarnai dengan praktek poligini dimana-mana. Praktek poligini dapat terjadi pada sistem sosial patrilineal (ayah) maupun matrilineal (nenek-mamak). Para nabi dalam agama samawi juga mempraktekkan poligini, tetapi poligini dalam arti poligami, bukan poligini an-sich.

Hanya dua peradaban dalam sejarah peradaban dunia yang sama sekali tidak pernah mempraktekkan poligini yaitu Romawi Kuno dan Yunani Kuno; akar dari sejarah peradaban Eropa modern. Tetapi sejarah mencatat, di dua peradaban yang menentang poligini itulah, praktek pelacuran, perzinahan dan perselingkuhan meraja lela. Monogami hanyalah praktek hukum diatas kertas. Kebutuhan sosial poligini ditoleransi dengan praktek pelacuran, perzinahan dan perselingkuhan. Disanalah wanita hanya dijadikan simbol cinta, disanjung dan dinomersatukan, tanpa diperhatikan harga dirinya.

Poligami lebih mulia daripada poligini. Asumsi awal praktek poligami sebenarnya adalah monogami. Tapi menimbang kebutuhan sosial dan biologis manusia, ada perbaikan sistem poligini, yaitu poligami. Poligami memang hanya dikenal dalam ajaran Islam. Diluar Islam, mereka justru mempraktekkan poligini.

Yang dewasa ini terjadi adalah praktek poligini, atau poligami yang disalahartikan. Mereka menggunakan dalil ‘toleransi berpoligami' untuk menikah lagi secara bebas. Padahal untuk mengambil keputusan berpoligami, semestinya para lelaki memahami dengan baik syarat yang ditetapkan oleh Allah : Adil! Para lelaki tidak boleh cenderung pada istri yang lebih muda sehingga menimbulkan ketidakadilan ekonomi.

Konsep ketidakadilan dalam keluarga ini bukan berasal dari Islam, tapi dari negeri pendukung monogamy : yaitu Eropa (Barat). Di Eropa sering terjadi ketidak-adilan ekonomi dalam keluarga karena mereka memang tidak mengatur soal internal bahtera rumah tangga. Di Barat, harta suami adalah miliknya sendiri, dan ia bebas memberikan kepada siapapun yang ingin dia berikan. Itulah sebabnya, wanita Barat terkadang harus berjuang sendiri untuk menjaga ketahanan ekonominya, sebab lelakinya memang tidak bertanggung jawab penuh soal perekonomian keluarga.

Di Barat, konsep keluarga hanya didasarkan pada konsep ‘cinta'. Laksana Pangeran Cupid yang mendambakan Dewi Venus atau tragedi cinta St. Valentine. Nyaris seluruh catatan sejarah peradaban Yunani dan Romawi Kuno dipenuhi dengan episode soal Cinta. Konsep cinta tunggal inilah yang dikemudian hari diterjemahkan dalam konsep monogami. Pernikahan bagi orang Barat, bukanlah bertujuan pembentukan keluarga, tapi peresmian cinta.

Jangan Dewakan Cinta

Eropa berusaha melakukan expansi konsep monogami mereka dengan memaksa kaum muslimin menerima konsep monogami dengan dalih ketidakadilan, gender dan feminisme. Padahal dalam Islam tidak ada persoalan gender; sementara konsep poligami dalam Islam sudah ditata dalam konsep keadilan Islam.

Demi tujuannya itu, barat justru menebar frase pemikiran paling menakutkan dalam sejarah peradaban manusia : CINTA. Ratusan juta pemuda pemudi muslim terjerat senandung cinta, yang akhirnya justru malah menolak konsep yang telah disediakan Islam. Perlahan tapi pasti, mereka menjadi pendukung gerakan feminisme ala Barat. Sedangkan jika ditanya soal definisi dan sejarah monogami, poligini, dan poligami, mereka bungkam. Mereka cuma menelan mentah-mentah jualan cinta orang Barat.

Bicara soal poligami, mari kita melakukan riset ke tempat pelacuran. Disana kita akan bertanya para pelacur; sukakah mereka dengan profesi mereka? Jangan kaget jika mendapatkan jawaban: "Saya lebih baik dinikahi jadi istri simpanan daripada harus bergelimang dosa." Ternyata, mereka lebih memilih jalan kehormatan : dipoligami. Tapi kita harus gigit jari, kebanyakan istri dari pelanggan kompleks pelacuran adalah pendukung berat monogami. "Mending suami gue jajan aja daripada gue dimadu."

Mungkin Anda termasuk istri anti poligami. Bersyukurlah Anda telah mendapatan suami yang mencintai Anda dan Andapun mencintainya. Tapi janganlah sombong! Mentang-mentang Anda sudah menggenggam apa yang ingin Anda dambakan, lalu anda menghalangi kemungkinan orang lain mendapatkan kebahagiaan pula. Anda tidak mencintai pasangan hidup Anda, tapi Anda hanya mencintai diri sendiri. Cinta Anda adalah cinta yang dibalut dalam ke-Aku-an (egoisme). Ingatlah di luar sana, ada banyak wanita yang tidak seberuntung Anda, hingga mereka harus merelakan dipoligami. Mereka adalah para pelacur, korban perkosaan, janda-janda miskin, dan gadis-gadis yang telat menikah. Diluar sana banyak pula wanita yang menginginkan mendapatkan kebaikan dari suami Anda, wanita-wanita shalehah yang kesulitan mencari suami shaleh. Bagaimana jika Anda berada diposisi mereka? Mempertahanan idealisme monogami? Sampai mati kemungkinan Anda tidak mendapatkan suami yang Anda dambakan.

Atau barangkali Anda seorang lelaki yang juga anti poligami. Bersyukurlah karena istri Anda masih bisa memenuhi semua kebutuhan cinta Anda. Saya cuma berdoa, semoga anda benar-benar mencintai pasangan hidup Anda : tidak berselingkuh, tidak berzina, dan tidak melacur. Jika Anda melakukannya, tanyakan pada hati nurani Anda : Apakah Anda setuju dengan saya soal Poligami?


I AM A SECOND WIFE

: M. Syamsi Ali *)

Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum yang diadakan setiap Sabtu di Islamic Center New York kedatangan peserta baru. Pertama kali memasuki ruangan itu saya sangka ia wanita Bosnia. Dengan pakaian Muslimah yang sangat rapih, blue eyes, dan kulit putih bersih. Pembawaannya pun sangat pemalu, dan seolah seseorang yang telah lama paham etika Islam.

Huda, demikianlah wanita belia itu memanggil dirinya. Menurutnya, baru saja pindah ke New York dari Michigan ikut suami yang berkebangsaan Yaman. Suaminya bekerja pada sebuah perusahaan mainan anak-anak (toys).

Tak ada menyangka bahwa wanita itu baru masuk Islam sekitar 7 bulan silam. Huda, yang bernama Amerika Bridget Clarkson itu, adalah mantan pekerja biasa sebagai kasir di salah satu tokoh di Michigan. Di toko inilah dia pertama kali mengenal nama Islam dan Muslim.

Biasanya ketika saya menerima murid baru untuk bergabung pada kelas untuk new reverts, saya tanyakan proses masuk Islamnya, menguji tingkatan pemahaman agamanya, dll. Ketika saya tanyakan ke Huda bagaimana proses masuk Islamnya, dia menjawab dengan istilah-istilah yang hampir tidak menunjukkan bahwa dia baru masuk Islam. Kata-kata "alhamdulillah"."Masya Allah" dst, meluncur lancar dari bibirnya.

Dengan berlinang air mata, tanda kebahagiaannya, Huda menceritakan proses dia mengenal Islam. "I was really trapped by jaahiliyah (kejahilan)", mengenang masa lalunya sebagai gadis Amerika. "I did not even finish my High School and got pregnant when I was only 17 years old", katanya dengan suara lirih. Menurutnya lagi, demi mengidupi anaknya sebagai `a single mother' dia harus bekerja. Pekerjaan yang bisa menerima dia hanyalah grocery kecil di pinggiran kota Michigan.

Suatu ketika, toko tempatnya bekerja kedatangan costumer yang spesial. Menurutnya, pria itu sopan dan menunjukkan `respek' kepadanya sebagai kasir. Padahal, biasanya, menurut pengalaman, sebagai wanita muda yang manis, setiap kali melayani pria, pasti digoda atau menerima kata-kata yang tidak pantas. Hingga suatu ketika, dia sendiri berinisiatif bertanya kepada costumernya ini, siapa namanya dan tinggal di mana.

Mendengar namanya yang asing, Abdu Tawwab, Huda semakin bingung. Sebab nama ini sendiri belum pernah didengar. Sejak itu pula setiap pria ini datang ke tokonya, pasti disempatkan bertanya lebih jauh kepadanya, seperti kerja di mana, apakah tinggal dengan keluarga, dll.

Perkenalannya dengan pria itu ternyata semakin dekat, dan pria itu juga semakin baik kepadanya dengan membawakan apa yang dia sebut `reading materials as a gift". Huda mengaku, pria itu memberi berbagai buku-buku kecil (booklets).

Dan hanya dalam masa sekitar tiga bulan ia mempelajari Islam, termasuk berdiskusi dengan pria tersebut. Huda merasa bahwa inilah agama yang akan menyelamatkannya.

"Pria tersebut bersama isterinya, yang ternyata telah mempunyai 4 orang anak, mengantar saya ke Islamic Center terdekat di Michigan. Imam Islamic Center itu menuntun saya menjadi seorang Muslimah, alhamdulillah!", kenang Huda dengan muka yang ceria.

Tapi untuk minggu-minggu selanjutnya, kata Huda, ia tidak berkomunikasi dengan pria tersebut. Huda mengaku justeru lebih dekat dengan isteri dan anak-anaknya. Kebetulan lagi, anaknya juga berusia tiga tahun, maka sering pulalah mereka bermain bersama. "Saya sendiri belajar shalat, dan ilmu-ilmu dasar mengenai Islam dari Sister Shaima, nama isteri pria yang mengenalkannya pada Islam itu.

Kejamnya Poligami

Suatu hari, dalam acara The Islamic Forum, minggu lalu, datang seorang tamu dari Bulgaria. Wanita dengan bahasa Inggris seadanya itu mempertanyakan keras tentang konsep poligami dalam Islam. Bahkan sebelum mendapatkan jawaban, perempuan ini sudah menjatuhkan vonis bahwa "Islam tidak menghargai sama sekali kaum wanita", katanya bersemangat.

Huda, yang biasanya duduk diam dan lebih banyak menunduk, tiba-tiba angkat tangan dan meminta untuk berbicara. Saya cukup terkejut. Selama ini, Huda tidak akan pernah menyelah pembicaraan apalagi terlibat dalam sebuah dialog yang serius. Saya biasa berfikir bahwa Huda ini sangat terpengaruh oleh etiket Timur Tengah, di mana kaum wanita selalu menunduk ketika berpapasan dengan lawan jenis, termasuk dengan gurunya sendiri.

"I am sorry Imam Shamsi", dia memulai. "I am bothered enough with this woman's accusation", katanya dengan suara agak meninggi. Saya segera menyelah: "What bothers you, sister?". Dia kemudian menjelaskan panjang lebar kisah hidupnya, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kemudian hamil di luar nikah, bahkan hingga kini tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini berumur hampir 4 tahun itu.

Tapi yang sangat mengejutkan saya dan banyak peserta diksusi hari itu adalah ketika mengatakan: "I am a second wife." Bahkan dengan semangat dia menjelaskan, betapa dia jauh lebih bahagia dengan suaminya sekarang ini, walau suaminya itu masih berstatus suami wanita lain dengan 4 anak."I am happier since then", katanya mantap.

Dia seolah berda'wah kepada wanita Bulgaria tadi: "Don't you see what happens to the western women around? You are strongly opposing polygamy, which is halaal, while keeping silence to free sex that has destroyed our people" ,jelasnya. Saya kemudian menyelah dan menjelaskan kata "halal" kepada wanita Bulgaria itu.

"I know, people may say, I have a half of my husband. But that's not true", katanya. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa poligami bukan hanya masalah suami dan isteri. Poligami dan kehidupan keluarga menurutnya, adalah masalah kemasyarakatan. Dan jika seorang isteri rela suaminya beristeri lagi demi kemaslahatan masyarakat, maka itu adalah bagian dari pengorbanannya bagi kepentingan masyarakat dan agama.

Kami yang dari tadi mendengarkan penjelasan Huda itu hanya ternganga. Hampir tidak yakin bahwa Huda adalah isteri kedua, dan juga hampir tidak yakin kalau Huda yang pendiam selama ini ternyata memiliki pemahaman agama yang dalam. Saya kemudian bertanya kepada Huda: "So who is your husband?" Dengan tertawa kecil dia menjawab "the person who introduced me to Islam". Dan lebih mengejutkan lagi: "his wife basically suggested us to marry", menutup pembicaraan hari itu.

Diskusi Islamic Forum hari itu kita akhiri dengan penuh bisik-bisik. Ada yang setuju, tapi ada pula yang cukup sinis. Yang pasti, satu lagi rahasia terbuka. Saya sendiri hingga hari ini belum pernah ketemu dengan suami Huda karena menurutnya, "he is a shy person. He came to the Center but did not want to talk to you", kata Huda ketika saya menyatakan keinginan untuk ketemu suaminya.

"Huda, may Allah bless you and your family. Be strong, many challenges lay ahead in front of you", nasehatku. Doa kami menyertaimu Huda, semoga dikuatkan dan dimudahkan!

*) Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah


Posting Komentar