Senin, 01 Desember 2008

TENTARA LANGIT DI KARBALA.

Tujuh puluh dua pasukan Husain dikepung empat ribu tentara Ibn Ziyad di bawah komando Syimr ibn Dzil Jun. Setiap satu sahabat Husain harus menghadapi 50-60 tentara musuh sekaligus. Sebelum peperangan dimulai, tentara musuh menghalangi rombongan Husain. Geriba (tempat air) yang sebelumnya telah dipenuhi dengan air oleh saudara seayahnya, Al Abbas ibn Ali, sebelum blokade menjadi ketat, telah kering (karena penghalangan ini).

Dalam pertempuran yang tak seimbang itu, cucu Rasulullah tersebut tersungkur terkena sabetan pedang dan mencoba bangkit kembali dengan tubuh penuh luka dan darah. Dia tak pernah gentar melawan musuh-musuhnya yang membabi-buta. Imam Husain terus membela pasukannya dengan mengorbankan dirinya, maju sendiri ke medan laga. Akhirnya, setelah melewati masa pertumpahan darah yang sangat panjang, dia pun jatuh dan terbunuh di tangan Syimr ibn Dzil Jun, seorang panglima durjana yang sangat berambisi untuk membunuhnya.

Itulah sekelumit kisah dalam buku Tentara Langit di Karbala, sebuah buku yang mengulas tragedi memilukan dalam sejarah Islam.

Disebutkan, bagaimana seorang cucu Rasulullah yang rela mengorbankan nyawanya demi untuk persatuan ummat. Digambarkan pula, bagaimana sebuah kekuasan dapat membutakan nurani manusia sehingga tidak bisa membedakan, mana yang benar dan yang salah, serta kekuasaan mampu menghilangkan rasa cinta dan hormat di hati, bahkan kepada keturunan Rasulullah SAW sekalipun.

“Tentara Langit Karbala: Epik Suci Cucu Sang Nabi”, salah satu dari sedikit (mungkin) buku yang khusus menceritakan peristiwa itu. Buku yang minimalis (225 halaman) ini ditulis oleh Khalid Muhammad Khalid, seorang penulis termasyur sejarah keluarga dan sahabat Nabi, juga seorang politisi jebolan Univ Al Azhar Kairo, seorang yang lembut hati tapi berpendirian, yang wafat pada tahun 1996.

Awalnya buku yang diterbitkan oleh Mizania ini terasa agak sulit memahaminya, karena terjemahannya bergaya bahasa arab. Tapi semakin kebelakang, semakin menguras air mata…

Peristiwa Karbala dimulai dari perbedaan model pemikiran Bani Hasyim (ahlul bait Nabi) dengan Bani Umayyah (keturunan Abu Sufyan). Bani Hasyim melihat agama sebagai agama, kenabian, petunjuk dan cahaya penerang. Sebaliknya Bani Umayyah melihat agama sebagai kerajaan, kekuasaan dan kedaulatan.

Ketika Ali ibn Abi Thalib wafat, maka putra tertuanya Hasan ibn Abi Thalib mendapatkan baiat dari kaum muslimin untuk menggantikan menjadi khalifah (jadi bukan karena wasiat ayahnya). Hasan menerimanya dengan penuh keterpaksaan. Sesunggguhnya beliau tak pernah menginginkan kekuasaan. Tapi ada satu golongan dari kubu Muawiyah (putra Abu Sufyan) yang menolak pembaiatan itu. Dia menginginkan kursi khalifah jatuh ditangannya (pada saat pemerintahan Usman bin Affan, sudah mulai dihembuskan isu dan fitnah, bahwa keluarga Ali mengejar kursi kekhalifahan, padahal, Ali-lah yang termasuk orang pertama yang memberikan baiat pada Usman bin Affan, begitu ketika perang, Usman wafat, Hasan dan Husein menghadap ayahnya dengan berlumuran darah, tapi sang ayah marah dan berkata, “mengapa kalian tidak mati dalam melindunginya?” )

Karenanya Hasan yang lembut hati dan menyukai perdamaian berniat untuk menyerahkan saja kursi kekhalifahjan kepada Muawiyah, tapi 40.000 pasukan tempur siap membelanya, menolak niat Hasan tersebut (Husein pun menolak niat saudaranya). Maka, dua kubu berdiri siap untuk bertempur. Tapi Hasan tidak tahan membayangkan pertumpahan darah dan perang saudara yang akan terjadi, beliau berdiri ditengah dan mempersembahkan kursi kekhalifahan pada Muawiyah dengan beberapa perjanjian. Diantaranya adalah Muawiyah tidak boleh mengangkat penggantinya kelak, semuanya harus dikembalikan kepada kaum muslimin.

Selanjutnya Muawiyah pulang ke Syam, ke istananya yang megah, sedangkan Hasan Husein kembali ke Madinah. Muawiyah menjadi pemimpin yang bengis dan zalim, sementara makin banyak kaum muslimin yang mengikuti pengajian yang ditegakkan Hasan Husein. Mereka berdua semakin dicintai kaum muslimin. Kondisi ini membuat dengki Muawiyah, sehingga salah seorang istri dari keluarga Abu Sufyan meracuni Hasan. Hasan wafat dan tidak diizinkan Muawiyah untuk dimakamkan disebelah Rasulullah, akhirnya beliau dimakamkan di Baqi’.

Muawiyah mengangkat gubernurnya di Bashrah, yaitu Ziyad. Ziyad dijadikannya sebagai orang yang sangat keras dan kejam. Sementara ia sendiri mulai bersandiwara sebagai orang yang lemah lembut. Sampai di akhir hayatnya ia mengangkat Yazid anaknya (seorang yang sangat jauh dari cakap, suka berfoya foya, berjudi dan mabuk mabukan), untuk menggantikan kedudukannya, sekaligus melupakan perjanjiannya dengan Hasan ibn Ali.

Berita itu disampaikan sekaligus dimintakan baiatnya oleh Marwan, gubernur Madinah. Tentu saja ditolak keras oleh Husein ibn Ali, Abdurrahman ibn Abu Bakar, Abdullah ibn Umar dan Abdullah ibn Zubair. Dan yang paling keras diantara mereka berempat itu adalah Abdullah ibn Zubair, dialah yang diwasiatkan Muawiyah kepada Yazid untuk mencincangnya jika ia dapat ditaklukkan.

Yazid meminta pertolongan Marwan untuk mengalahkan pengaruh mereka berempat. Marwan (yang nanti dia dan keturunannya akan menggantikan Yazid, -dan diberitakan, raja raja keturunannya tak ada yang layak disucikan kecuali Umar ibn Abdul Aziz r.a-)

Sejak wafatnya Hasan, Husein ibn Ali pergi ke Makkah untuk mencari keamanan dan perlindungan, beliau disertai dua saudarinya, Zainab dan Ummu Kultsum, saudaranya Abu Bakar, Abbas dan Ja’far, juga putra saudara-saudara kandungnya Hasan ibn Ali.

Suatu ketika rakyat Kufah mengirim surat kepada beliau, berisi ajakan agar datang kepada mereka untuk mendapatkan baiat dan menolak kesewang-wenangan yang dialami umat dengan naiknya Yazid. Husein mengirimkan utusan menuju Kufah, yaitu Musallam ibn Uqail ibn Abu Thalib untuk melihat kesungguhan rakyat Kufah. Mata-mata Yazid mengetahui hal tersebut, tapi gubernur Kufah saat itu Nu’man menolak memerangi utusan Husein, sehingga ia kemudian dicopot dan digantikan oleh Abdullah ibn Ziyad penguasa Bashrah. Ibn Ziyad mewarisi kekejian ayahnya, ia juga membunuh utusan Husein yang datang ke Bashrah untuk mengajak rakyat Bashrah melakukan perlawanan.

Ibn Ziyad memasuki Kufah secara diam diam, tapi secara unik dapat diketahui oleh Musallam ibn Uqail, namun, Musallam tidak melakukan penyergapan terhadap ibn Ziyad, karena sebagai seorang mukmin, Rasululullah melarang melakukan tipu daya dan membunuh dengan menyergap.

Musallam berhasil mendapatkan simpati dan baiat rakyat Kufah yang telah lama merindukan Husein, beliau mengirim surat kepada Husein untuk segera datang ke Kufah. Namun, dengan tipu daya licik dari Ibn Ziyad, justru Musallam yang disergap dan dipenggal kepalanya oleh ibn Ziyad.

Husein belum mengetahui hal ini, hingga beliau mempersiapkan keberangkatannya bersama seluruh keluarganya. Beliau mengirim utusan kepada rakyat Kufah memberitahukan kedatangannya, orang tersebut adalah Qais. Sementara kaum muslimin beserta sahabat sahabat Husein, berusaha menghentikan tekad Husein untuk datang ke Kufah, mereka memiliki firasat bahwa Husein akan mengalami peristiwa yang buruk, tapi tekad Imam Husein sudah bulat. Andai saja Yazid ibn Muawiyah adalah seorang yang cakap, pintar dan berakhlak mulia, maka ia-lah orang pertama yang memberikan baiatnya, namun kondisinya adalah kebalikan dari semua itu, jika tidak dilawan sekarang, bagaimanakah pertanggungjawabannya sebagai ahlul bait yang tersisa dihadapan Allah, jadi bukan karena kekuasaan ia berperang. Husein tidak akan mebiarkan agama Allah dan hak manusia menjadi permainan di tangan Yazid.

Husein merasa bertanggung jawab terhadap seluruh keluarga besarnya, karenanya ia membawa serta seluruh keluarganya menuju Kufah (ia tidak menyangka keadaan di Kufah sudah sepenuhnya dikuasai ibn Ziyad).

Dalam perjalanan menuju Kufah, Husein bertemu dengan rombongan Zuhair ibn Qiyan yang sedang melakukan perjalanan. Husein membisikkan kata-kata “apakah Zuhair ingin memperoleh surga sekarang ataukah nanti?”, maka Zuhair pun bergabung dengan rombongan Husein, sedangkan keluarganya disuruh kembali ke kampung halaman.

Ditengah perjalanan, akhirnya Husein memperoleh kabar tentang keadaan semua utusan yang diperintahkannya ke Kufah dan Bashrah, namun Husein dan rombongan sudah bertekad bulat untuk menepati janjinya pada undangan rakyat Kufah.

Ibn Ziyad mengisolasi rakyat Kufah, dan mengutus pasukan untuk mencegat rombongan Husein, pasukan tersebut dipimpin oleh Al- Hurr ibn Yazid Al-Tamimi. Pasukan ini berhasil menemukan Husein, namun keadaan pasukan sangat haus menahan panas, mereka hampir mati lemas, dan melihat hal tersebut, Imam Huseien menyuruh sahabatnya memberikan air kepada pasukan tersebut. Mereka shalat berjamaah, dan berbincang bincang. Perbincangan sampailah pada maksud pasukan untuk membawa Husein dan rombongan ke hadapan Ibn Ziyad, tentu saja Husein menolak mentah mentah. Pasukan yang telah ditolong sebelumnya itu pun mulai menghalang halangi kepergian rombongan Husein, mereka dicegat kesana kemari, bahkan menuju mata air. Pasukan membiarkan rombongan Husein kehausan, sementara sebelumnya mereka justru ditolong..Husein pun marah dan mengumumkan perang terhadap pasukan (karena dalam rombongan Husein juga terdapat anak kecil yang sedang sakit, hingga sangat membutuhkan air). Namun Al-Tamimi menolak perang, ia hanya ditugaskan menahan Husein, bukan memeranginya oleh ibn Ziyad, demikian ia berkata.

Ketika Husein dipuncak amarahnya, ia bertanya, apa nama tempat dimana mereka sekarang berada, mereka menjawab “Karbala”, maka sirnalah harapan Husein, ia gelisah dan putus asa, disinilah, tempat inilah yang sudah diramalkan oleh kakeknya Rasulullah saw, ayahnya Ali ibn Abi Thalib r.a, sebagai akhir dari perjalanannya….

Namun, Imam Husein merenung dan mengingat ingat kembali apa yang telah diajarkan kakeknya yang mulia, “Bagi Allahlah segala urusan, sebelumnya dan sesudahnya”. “Katakanlah, tidak akan menimpa kita kecuali apa yang telah ditentukan Allah terhadap kita”. Akhirnya beliau bangkit, mendirikan tenda dan mengurus keluarganya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, beliau bangkit dengan penuh keagungan.

Diceritakan di halaman 155, Ibn Ziyad memiliki penasihat dalam kekejiannya, ialah titisan ruh jahat yang buruk rupa dan buruk budi yang bernama Syimr ibn Dzil Jun.

Ibn Ziyad melakukan perbuatan keji dalam memaksa rakyat Kufah memerangi Husein, kepala mereka yang tidak mau tunduk dipenggal dan digelindingkan dipasar, sehingga banyak yang terpaksa mengikutinya. Salah satunya adalah pemimpin 4000 pasukan, Umar ibn Saad. Tetapi akhirnya ia takluk akan kekuasaan yang dijanjikan padanya. Umar ibn Saad meminta Husein untuk menemui Ibn Ziyad dan memberi baiat pada Yazid, sehingga ia tak perlu berperang melawan cucu Rasulullah, namun, Husein menolak, (berdasarkan kesaksian ‘Uqbah ibn Sam’an, salah satu dari 2 sahabat Husein yang selamat)

Husein meminta pengunduran perang, agar wanita dan anak anak dapat kembali ke Makkah. Ia juga mengumumkan kepada rombongannya untuk pergi meninggalkan dirinya sendiri, karena yang diinginkan Yazid hanyalah dirinya, dia tak ingin 72 pengikutnya ikut binasa. Tapi tak seorangpun yang pergi, mereka berikrar akan hidup dan mati bersama Husein (diceritakan dengan penuh haru di hal 170-172).

Diceritakan juga di hal 173 : Husein berdiri menyiapkan pasukannya. Dia tempatkan Zuhair ibn Qiyan disebelah kanan dan Habib ibn Mazhhar disebelah kiri. Dia berikan panji kepada saudaranya yang bernama Al-Abbas ibn Ali. Para pemuda dari ahlul bait maju ke depan untuk mengambil posisi di barisan pertama. Dengan serentak mereka didorong oleh para pendukung Husein dengan mengatakan,

“Ma’adzallah, kalian mati duluan, sedangkan kita masih hidup dan menyaksikan kematian kalian. Kita harus lebih dulu, barulah kemudian kalian”

Begitulah, 4000 melawan 72 orang. Yang lebih mengherankan lagi, mereka keluar melakukan kejahatannya usia shalat Subuh bersama pimpinannya, apakah mereka benar-benar shalat? Apakah mereka membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad diakhir shalat mereka?

Pertempuran hampir mulai, (hal 175), terjadilah peristiwa menakjubkan, ketika Al-Hurr ibn Yazid Al-Tamimi turun dari kudanya disisi ibn Saad, datang dan merangkul Husein dengan air mata yang mengalir, ia bertobat dan berkata pada ibn Saad, “perangi juga aku bersamanya (Husein)”..

Panah pertama dilepaskan oleh Umar ibn Saad, pemimpin pasukan ibn Ziyad, sebagai pertanda dimulainya pertempuran. Dari barisan para pahlawan tampak maju Abdullah ibn Umar Al-Kalibi, yang datang terbirit birit bersama istrinya dari Kufah menyusul Husein.

Ada kejadian yang mengharukan, ketika ia terluka parah, istrinya menyusul di medan laga untuk melindungi suaminya, tapi sang suami malah mendorongnya menyuruh kembali ke tenda. Sang istri tak mau mematuhi, ia ingin masuk surga bersama sama suaminya, kejadian itu berlangsung berkali kali, sehingga menarik perhatian Husein, dan dengan lembut memerintahkannya kembali ke tenda. Namun, ketika akhirnya suaminya syahid, istrinya kembali ke pertempuran untuk melindungi jasad suaminya agar tidak dipenggal para durjana yang sengaja berniat tidak hanya membunuh, tapi juga memenggal. Apa daya, sang istri ikut syahid ketika orang terlaknat benci melihat adegan tersebut, Syimr ibn Dzil Jun datang dari belakang dan memenggal keduanya…

Kemudian tampak juga Urwah ibn Qais gugur sebagai syuhada.

Pertempuran dasyat dan penuh gagah berani sekaligus diikuti para pahlawan yang syahid diceritakan di hal 177-185. Pasukan ibn Ziyad melepaskan pasukan panah, kemudian membakar tenda perkemahan rombongan Husein, sehingga para pahlawan dikepung dimana mana.

Ketika tengah hari, Husein meminta perang dihentikan untuk sholat, anehnya, ibn Ziyad sholat juga beserta pasukannya.

Pendukung Husein tinggal sedikit, tapi para pahlawan yang tersisa sekali lagi mendatangi Husein, merangkul beliau saling menguatkan, tekad mereka semakin kuat. Lihatlah Hanzhalah ibn Sa’ad Al-Syami, Saifullah ibn Al-Haris dan saudaranya bernama Malik, Abdullah ibn Urwah dan saudaranya. Mereka selalu mengelilingi dan melindungi Husein.

Begitu juga Syaudzab, Abbas ibn Abu Syabib, Nafi’ ibn Hilal al-Bujali, Suwaid ibn Abu Al-Mutha’ dan lain lain berperang dengan penuh keberanian. Tidak cukup kata untuk merangkumnya, tak mampu bahasa untuk merangkainya.

Kemudian keluarga Husein maju ke depan, mereka seolah mencium bau wangi kakek mereka, nenek dan paman paman mereka terdahulu telah menanti di pintu surga. Orang pertama adalah Ali ibn Husein, baru berumur 19 tahun ketika harus syahid. Sang ayah memuji Tuhannya ketika menggendong putranya dan meminta saudarinya Zainab untuk menjaga jasad tersebut agar tidak dipenggal. Zainab tak kuasa menahan sedihnya melihat ranum remaja itu akhirnya gugur. Husein melihat itu, dan dengan penuh kasih sayang dimintanya Zainab untuk bersabar dan kembali ke tenda yang tersisa, sedangkan ia sendiri kembali ke pertempuran.

Selanjutnya adalah adegan kesyahidan dari ahlul bait yang tersisa, Ubaidillah ibn Ali ibn Abu Thalib, Ja’far, Ustman, Muhammad Al-Asgar, Abu Bakar dan Al-Abbas ibn Ali yang terkenal dengan ketampanannya, sehingga dijuluki ‘rembulan Quraisy’.

Putra putra Hasan dan Husein maju semua, Abu Bakar ibn Husein, Abdullah ibn Husein, dan Qasim ibn Hasan. Begitu juga putra Ja’far ibn Ali ibn Abu Thalib, Muhammad dan Abdullah, Putra putra Uqail ibn Abu Thalib; Abdullah Al-Akbar, Abdullah Al-Ashgar dan Ja’far. Putra putra Musallam yang dibunuh ibn Ziyad di Kufah, yaitu Muhammad dan Abdullah. Sebagaimana Muhammad ibn Abu Said ibn Uqail, mereka semua maju ke medan laga.

Bocah kecil, anak termuda pada saat itu, Al-Qasim ibn Hasan keluar dengan pedang terhunus, tapi tak bertahan lama, demi melihat itu, pembunuhnya segera dikejar Husein, lalu digendongnya putra saudaranya tersebut sambil berlinang air mata menyesali tak dapat menolongnya..

Hingga…tibalah waktunya Imam Husein sendirian…para pembunuh mengelilinginya, tapi tak mampu berbuat menyerang orang mulia itu, mereka hanya diam dengan hati gentar akan dosa…sampai datanglah manusia terlaknat, Syimr ibn Dzil Jun, mengomando mereka untuk memenggal Husein. Mereka bergerak maju sampai dikejutkan suara bocah kecil dari tenda yang datang dengan pedang terhunus, Abdullah ibn Hasan..tak lama, ia pun syahid, diusung oleh Husein dijaga oleh Zainab dengan hati kelu…

Ia berteriak pada Ibn Saad, untuk menggunakan nuraninya, Ibn Saad menangis tapi tak mampu menghentikan langkahnya, tak mampu menghalangi Syimr memenggal kepala Husein in Abi Thalib…orang mulia itu telah syahid….

Pertempuran berakhir sore hari, saat halilintar menggelegar dengan keras sibuk menyambut ruh ruh suci para syuhada dan hujan membasahi padang karbala, mengalirkan darah darah suci kemana mana…

Ada dua yang tersisa dari Ahlul bait, Zainab binti Ali bin abi Thalib, putri Fatimah binti Rasulullah..dan bocah kecil yang sakit, Ali ibn Husein Al-Ashghar. Mereka digiring menuju Ibn Ziyad, tapi dengan dada membusung penuh kehormatan. Mereka menjawab telak pertanyaan membalikkan ejekan ejekan yang dilontarkan Ibn Ziyad, sampai Ibn Ziyad menjadi kecut. Hampir Ali dibunuhnya, namun Zainab melindungi. Suatu saat kita akan mengenal nama besar ahlul bait yang tersisa ini, ‘Ali Zainal Abidin’.

Kejadian yang sama terulang di depan Yazid, tuan mereka, Yazid tak mampu berkata kata, bahkan melarikan diri dari hadapan Zainab dan Ali.

Peristiwa Karbala menyulut kemarahan kaum muslimin, mereka bersatu melakukan pemberontakan besar besaran di Makkah dan Madinah, Yazid dan pengikutnya mati secara terhina…

“Sesungguhnya makar Allah lebih dashyat…”


Sayangnya, beberapa orang dalam memahami peristiwa Karbala menjadi sesat dengan diperingatinya tanggal 10 Muharam dengan menyakiti diri mereka sendiri, berusaha menghayati kejadian yang dialami Imam Husein di Karbala pada waktu itu. Apakah kita harus begitu? Bukankah Allah melarang menyakiti diri sendiri? Mengapa kita tidak meneruskan perjuangan para syuhada dengan meluruskan ajaran Nabi tercinta? Meletakkannya kembali pada jalan yang dituntun oleh Al-Qur’an dan hadisnya? Paling tidak, pada diri kita sendiri…Wallahualam…

Harga:Rp.34.000,-+ongkos kirim sesuai tarif pos "kilat khusus",klik di: http://www.posindonesia.co.id/tarif_skh.php , dr Jakarta Timur & transfer ke rek: BCA No: 6310141249. Konfirmasi via chat Yahoo Messenger/id/e-Mail : oase_bc@yahoo.co.id atau hp no: 0811841321. Dan jika anda membutuhkan informasi buku-buku lain dapat melalui chat via YM, silahkan klik ikon YM dibawah ini:
Read More...

HIZBUT TAHRIR MENJAWAB TANTANGAN: AWAL PERANG TERBUKA ANTARA ISLAM VS KONPIRASI ZIONIS....INSYAALLAH DIMULAI…!!!



JILANI, KAMI TERIMA TANTANGAN ANDA HIZBUT TAHRIR MAMPU MENYELESAIKAN MASALAH PAKISTAN MELALUI DAULAH KHILAFAH….!!!

Nomer: PR08044

19 Dzulqa’dah 1429 H

17 Nopember 2008 M

PERNYATAAN PERS:

JILANI, KAMI TERIMA TANTANGAN ANDA

HIZBUT TAHRIR MAMPU MENYELESAIKAN

MASALAH PAKISTAN MELALUI DAULAH KHILAFAH

Hizbut Tahrir mengumumkan menerima tantangan PM Pakistan, Yusuf Riza Jilani, terkait dengan pernyataannya, “Jika ada seseorang yang mampu menyelesaikan masalah Pakistan, majulah ke depan.” Seluruh masalah Pakistan sebenarnya hasil dari dua hal: Pertama, Kapitalisme; Kedua, kepemimpinan yang korup dan pengecut.

Adapun Hizbut Tahrir, Hizb mempunyai rancangan peradaban yang merepresentasikan Islam. Di dalamnya berisi sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, sanksi hukum, strategi pendidikan dan politik luar negeri yang terpancar dari sistem politik yang unik di dalam Islam, dan itulah sistem Khilafah. Hizbut Tahrir juga mempunyai kepemimpinan politik yang bijak yang direpresentasikan oleh amirnya, al-‘Alim ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah, yang dibantu oleh sejumlah tokoh yang luar biasa dalam memimpin Hizb. Kepemimpinan yang mempunyai kesadaran politik yang sempurna tentang situasi internasional, serta menguasai ilmu dan fakih tentang hukum-hukum Islam. Beberapa dekade telah dilalui oleh Hizb, dimana Hizb terus-menerus berjuang untuk mewujudkan agendanya. Semuanya itu telah berhasil dimenangkannya dalam sejarah panjang yang luar biasa.

Adapun mereka yang mengatakan, “Di mana amir, kami tidak pernah melihatnya?” maka boleh jadi mereka memang tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Sebab, jika tidak, faktanya amir Hizb itu jelas sudah diketahui, bukan tidak diketahui. Beliau telah melakukan aktivitas politik bersama Hizb sejak Hizb berdiri. Beliau pernah menjadi jurubicara resmi Hizb sebelum menjadi amir Hizb. Pernah dipenjara beberapa kali karena sikap beliau yang kukuh, dan pengaruhnya yang luar biasa terhadap orang-orang zalim dan rezim mereka. Beliau adalah bendera, yang merupakan lentera, sangat dikenal di arena politik, intelektual dan media massa. Waktu untuk membuktikan semuanya itu, dengan izin Allah, tidak akan lama lagi, sampai Khilafah berdiri. Beliaulah yang akan menjadi Khalifah pertama, yang akan menjadi pemimpin bangsa Arab dan non-Arab, yang akan menyatukan mereka dengan Kitab Allah SWT dan sunnah Rasulullah saw.

Perjalanan dan perjuangan Hizbut Tahrir, keduanya membuktikan, bahwa Hizb adalah pemimpin pelopor. Hizb terus-menerus mengoreksi para penguasa, dan tidak pernah takut terhadap cacian seorang pencaci pun, semata karena Allah. Hizb juga tidak pernah bergeser dari tujuan dan metodenya, meski sekecil langkah semut, sekalipun para penguasa telah menggunakan cara-cara syaitan untuk memalingkan Hizb dari tujuannya, baik dengan teror, provokasi maupun tekanan terhadapnya dan para syabab-nya, dengan cara dibunuh maupun dipenjara. Semuanya itu justru meningkatkan tuntutan suara umat Islam pada Khilafah Islam, setelah mereka menyaksikan keteguhan, pengorbanan dan kejujuran Hizb.

Kepemimpinan ini, begitu Negara Khilafah berdiri, akan melakukan pembersihan terhadap UUD sekular yang korup dan usang, sebagai gantinya, ia akan mengadopsi UUD Islam yang tidak membutuhkan suara mayoritas agar menjadi undang-undang bagi suatu negeri, karena UU tersebut digali dari Kitab dan Sunah. Ia akan mencabut semua bentuk pajak yang zalim dari pundak rakyat, termasuk pajak pendapatan dan kepemilikan. Ia akan membagikan keuntungan kepemilikan umum, baik minyak, gas, listrik dan sumber-sumber pendapatan alam lainnya kepada seluruh rakyat. Ia juga akan memotong semua bentuk perluasan dari pasukan NATO dan AS di Afganistan, untuk menghentikan permusuhan mereka kepada Pakistan. Negara Khilafah tidak akan pernah mengikuti organisasi internasional, seperti PBB, dan akan berjuang untuk menyatukan negeri-negeri Islam dalam satu negara, di bawah satu kepemimpinan.

Dengan kebijakan seperti ini, negara Khilafah akan mampu mengusir AS dari Afganistan, dan menggabungkannya ke dalam negara Khilafah. Dengan kebijakan seperti ini, negara akan bisa memenuhi seluruh kebutuhan dasar rakyatnya. Negara juga akan menghapus sistem pendidikan yang ada dan amburadul untuk digantikan dengan sistem pendidikan Islam yang khas bagi seluruh rakyat, secara merata dan gratis. Negara juga akan membagikan tanah yang tidak dimiliki oleh siapapun kepada para petani. Juga akan melenyapkan sistem peradilan yang ada, yang telah dirancang oleh penjajah, untuk menerapkan peradilan Islam, sistem sanksi hukum dalam Islam yang bisa mewujudkan rasa keadilan, dan tidak menangguh-nagguhkan dan mengulur-ulur kasus-kasus rakyat, serta memutuskan perkara mereka tanpa pungutan biaya perkara.

Pemerintahan PM Jilani adalah contoh nyata kegagalan sistem Kapitalisme dan kegagalan kepemimpinan politik yang ada.

Hizbut Tahrir menyerukan kepada orang-orang Mukhlis dari kalangan militer agar melepaskan diri mereka sebagai sandaran dua kepemimpinan politik dan militer yang pengecut. Hizb juga mendorong mereka agar memberikan dukungan kepada Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah untuk mengenyahkan kehinaan dan penghambaan Pakistan kepada Amerika, sehingga Allah SWT pun ridha kepada kepada kita semua.

Shazad Shaikh

Wakil Jurubicara Resmi Hizbut Tahrir Pakistan



Spirit umat Islam menjelang jenuh...insyaAllah tantangan ini akan segera dijawab..bukan hanya oleh Hizbut Tahrir tapi juga oleh seluruh elemen umat Islam...dan saatnya Umat Islam melakukan pemurnian dari elemen2 atau anasir2 hipokrit, munafik, oportunis.

Diperingatkan kepada mereka yang selama ini menjadi komprador, maupun agen2 zionis, salibis & kapitalis...kembalilah ke sudut untuk menjadi penonton yang baik..tapi percayalah bahwa kalian sudah tidak mempunyai tempat lagi bila masa itu tiba..karena sejarah membuktikan bahwa kalian adalah penumpang2 gelap dari suatu revolusi.

Dan ingat ini bukan hanya pertempuran harakah, akan tetapi perangnya Islam vs peradaban kafir...!!!




Read More...

IBUNYA SEGALA PERANG TELAH DIUJUNG HIDUNG KITA MARI RAPATKAN BARISAN WALAU KITA HANYA SEDIKIT DAN ASING DIMATA MANUSIA.


KELUARKAN PEDANG ITU DAN JANGAN DISARUNGKAN KEMBALI SEBELUM PERANG SELESAI..!!!



"Islam itu dimulai dalam keadaan asing, dan suatu saat akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing tersebut." (Muslim)

Makna AsingDefinisi asing dalam hadits di atas bukanlah mutlak diberikan bagi seorang yang tampil beda di tengah masyarakatnya. Akan tetapi, asing di sini bermakna seorang muslim yang melaksanakan syariat Islam dengan benar ketika masyarakat melupakannya. Ketika ia melaksanakannya, masyarakat di sekitarnya mengingkarinya bahkan menentangnya.

Makna asing di sini dijelaskan dalam hadits lain bahwasanya mereka adalah: "orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak", dan dalam riwayat lain mereka adalah: "orang-orang shalih di antara banyaknya orang-orang yang buruk, orang yang menyelisihi mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka". AKAN ASING KETIKA BERANI BERKATA TIDAK TERHADAP IMPERIALIS ZIONIS & SALIBIS....!!!

Dari Ibnu Umar radhiallanhu ‘anhuma beliau berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari)

Demi akidah dan syariat pada masa hedonisme saat ini, kita akan menjadi asing bahkan mungkin akan asing dimata saudara2 kita sendiri.

Bahkan tidak tertutup kemungkinan kita akan di marginalkan dengan atribut ”terorrist” yang selalu di dengungkan oleh kaum liberalis aportunis sebagai antek2 zionis & salibis sebagai pencinta dunia.

Dalam masa asingnya, Islam di peringkat permulaan, pada masa Islam itu dianggap aneh dan ganjil, penganut-penganutnya tidak banyak, dan berasal dari golongan bawahan.

Maka bagaimana Rasulullah berjuang waktu itu ? Bagaimana Rasulullah membentuk pengikut-pengikutnya ? Dan apakah yang dibuat oleh Rasulullah terhadap pengikut-pengikutnya ?

Walau bagaimanapun Islam itu akan asing kali kedua. Apakah asing yang disebutkan oleh Rasulullah kali kedua itu telah tiba ? Sebenarnya kalau kita kaji, dalam suasana masyarakat hari ini asing itu sudah tiba, dan memang nyatalah bahwa Islam itu sudah kembali asing, seperti peringkat awal dahulu.

Ini dapat kita lihat orang yang ingin menegakkan Islam di akhir zaman ini atau yang benar-benar membangunkan Al Qur'an dan Sunnah dalam kehidupan amat sedikit sekarang ini, walaupun banyak yang mengaku Islam.

Begitulah orang-orang yang ingin menghayati Islam di waktu ini adalah rakyat jelata, orang-orang miskin, orang yang tidak berkuasa, orang yang tidak berpangkat di tengah masyarakat.

Kalaupun ada yang berpangkat, tetapi amat sedikit atau bilangan jari saja, tetapi yang mayoritasnya yang menghayati ajaran Islam ini adalah rakyat jelata, selain dari golongan bawah ini yang menghayati ajaran Islam, memperjuangkan ajaran Islam ini bukan dari para ulama, bukan dari cerdik pandai atau bukan orang-orang yang mengetahui ajaran Islam.

Kalau mau ikut logika, tentulah orang yang gigih berjuang dan menghayati ajaran Islam di akhir zaman ini tentulah ulama-ulama, guru-guru mengaji, ustadz-ustadz yang telah mengetahui tentang Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Tetapi rupanya yang terjadi sebaliknya. Inilah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya : "Akan datang di akhir zaman ahli-ahli ibadahnya jahil-jahil dan ulama-ulamanya fasik" bahkan melakukan fitnah2 keji terhadap penegakan syariat islam..mendistorsi semangat jihad me-dekontruksi al-quran & sunah...!? dengan lancangnya memberikan predikat terorrist kepada saudara2nya sendiri demi memenuhi napsu2 yang diberikan oleh zionis & salibis, bahkan demi alasan persatuan dan kesatuan...yang mana mungkin bisa menyatukan air dengan minyak.

"Kamu akan dibius dan dilenakan oleh dua perkara yaitu cinta dunia dan jahil, tetapi jika di waktu itu ada sedikit yang sanggup membangunkan Islam dalam kehidupan maka akan diberi pahala oleh Allah seperti orang Islam yang dahulu, yaitu Muhajirin dan Anshar"

Sesungguhnya umat islam telah terdampar di persimpangan jalan, mereka hidup dalam kesengsaraan yang tidak pernah disaksikan oleh sejarah islam, telah berlalu banyak krisis dan bencana yang silih berganti. Hal ini dikarenakan umat islam sekarang berada pada kondisi yang lemah dan jauh dari syariat Allah ta'ala yang kokoh.

Akibatnya kita dapatkan kaum muslimin sekarang kehilangan sebagian negeri atau harta mereka. Mereka hidup dalam keadaan bimbang, keguncangan, ketakutan dan rasa was-was.

Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana islam saat ini dirasakan asing oleh pemeluknya. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Islam itu dimulai dalam keadaan asing, dan suatu saat akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing tersebut." (Muslim)

Tanyalah kepada diri masing2 kenapa kita tidak mau bersatu..kenapa kita menghujat saudara2 kita sendiri sebagai terorrist..padahal mereka dengan iklas membasahi bumi in i dengan darah2 darah mereka sendiri...

Mari kita bersatu dan merapatkan barisan dengan mereka...!!!!YANG DIANGGAP ASING KARENA PERANG KITA SUDAH DIUJUNG HIDUNG....!!!

Read More...

TEORI KONSPIRASI “Jika kita tidak mengenal racun maka bersiaplah akan keracunan...!?”


Tentang istilah teori konspirasi ataupun konspirasi an-sich: kuncen blog ini pernah mengalami suatu hal yang pahit karena di tendang dari suatu forum diskusi tentang jihad maupun aktivitas dari para mujahidin, hanya gara-gara mengggunakan istilah tersebut, yang mana kuncen blog mengingatkan “awas” tentang adanya suatu konpirasi.


Entah mengapa akhir-akhir ini ”konspirasi” kata yang satu ini begitu akrab ditelinga, bahkan sampai berpendar-pendar di otak begitu memusingkan. Seakan sebuah kata sakti yang selalu menelusup ke semua peristiwa. Semua orang juga sudah dengan begitu fasihnya melafalkan dan tanpa sungkan-sungkan menggunakannya dalam setiap perbincangan, baik pada diskusi maha hebat di hotel berbintang, ataupun obrolan ringan bermodal kopi di warung-warung pinggir jalan.


Karena sudah penasaran ingin mengetahui arti sebenarnya tanpa harus menebak-nebak dalam setiap kalimat yang berbeda, akhirnya Kamus John M. Echols & Hassan Shadily langsung menjadi acuan, dan ternyata kata ini sudah terdefinisi lebih membumi yaitu kong kalikong atau persekongkolan, jadi kata ini sebenarnya bisa digunakan untuk memperoleh efek negatif maupun positif. Tapi seiring waktu kata konspirasi lebih menjurus ke efek negatif.


Juga kuncen dianggap telalu berfikir dalam “paradigma intelegen” oleh admin suatu situs jihad hanya karena juga mengingatkan supaya kita semua jangan terjebak dalam konspirasi ketika kuncen mengomentari tentang peledakan bom atau konflik di mumbai india.


Dengan kita tidak mau mempelajari atau mengerti dengan teori konspirasi..maka kita sendiri sudah terjebak dalam konspirasi global supaya kita tetap berfikir naif yang akibatnya juga akan bertindak naif.


Coba perhatikan kutipan-kutipan ini dari seorang antek liberalis : “Goenawan Mohamad (Tahun 2006, dia mendapat penghargaan Dan David Prize di Tel Aviv Israel) menyebut teori konspirasi sebagai “teori orang malas”. Saya tidak bisa tidak bersetuju. Bahkan menurut hemat saya, bukan sekedar itu. Teori konspirasi, bukan alat penjelasan orang-orang yang malas, tetapi juga “teori para pecundang”. Seorang pecundang membiasakan telunjuknya mengarah ke luar dirinya, seolah mengharamkan introspeksi. Seorang pemenang, sebaliknya, senantiasa ikhlas melihat pertama-tama ke dalam dirinya. Introspeksi”.

Kalau kita cermati secara cerdas, berarti Goenawan Mohammad menyuruh kita untuk tetap berfikir dungu dan tidak boleh melakukan analisa suatu sebab dan akibat.


Saat kita menyadari pentingnya introspeksi diri, tidak berarti harus membuang teori konspirasi, atau menuduh teori itu sebagai buang-buang waktu, atau sejenis “kerjaan orang bodoh”. Tidak sama sekali. Pemahaman terhadap teori konspirasi tetap dibutuhkan oleh Ummat ini, bahkan sangat penting. Tidak mungkin sukses perjuangan suatu kaum, jika mereka buta terhadap konspirasi musuh-musuhnya. Rasulullah Saw. memerintahkan sebagian Sahabat melakukan kegiatan mata-mata atau pengintaian, karena ingin mengetahui konspirasi-konspirasi musuhnya? Sampai beliau mengatakan, “Al harbu khud’ah” (perang itu adalah tipu daya).


Sebenarnya, ajaran Islam sangat memperhatikan posisi teori konspirasi –jika boleh disebut demikian-. Bahkan tema konspirasi (makar) sangat kuat dalam ajaran dan sejarah Islam. Minimal, kita diingatkan bahwa iblis dan bala tentaranya tidak kenal lelah melakukan konspirasi untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Begitu pula, orang-orang kafir selalu berkonspirasi untuk memurtadkan kaum Muslimin. Dalam Al Qur’an, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian, sampai mereka berhasil membuat kalian murtad dari agama kalian, seandainya mereka mampu (melakukan hal itu).” (Al Baqarah: 217).


Konspirasi dalam Al Qur’an disebut dengan istilah al makar atau al kaidu. Ayat-ayat tentang hal ini sangat banyak. Di antaranya yang sangat populer ialah: “Mereka membuat makar, dan Allah pun membuat makar. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pembuat makar (balasan).” (Ali Imran: 54). Dan ada pula ayat berikut: “Dan sungguh mereka telah membuat makar (yang besar), padahal di sisi Allah (balasan) makar mereka itu. Dan sungguh makar mereka itu dapat melenyapkan gunung (karena saking kejinya).” (Ibrahim: 46).

Dalam kisah para Nabi dan Rasul banyak disebutkan tentang makar-makar. Rata-rata musuh para Rasul membuat makar untuk menentang Kenabian. Minimal makar dengan kampanye menjelek-jelekkan dakwah Rasul. Saudara-saudara Yusuf As pernah membuat makar dengan memasukkan Yusuf ke dalam sumur, lalu mereka mengarang cerita dusta tentang “Yusuf dimakan srigala”. Fir’aun juga membuat makar untuk menghalangi dakwah Musa As. Samiri membuat makar “anak sapi” untuk menyesatkan Bani Israil. Romawi membuat makar untuk memberantas dakwah Zakariya, Yahya, dan Isa As. Adapun makar di jaman Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam banyak sekali. Makar itu terutama dari kalangan musyrikin Makkah, Yahudi Madinah, dan kaum munafik Madinah.


Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam berkali-kali hendak dibunuh. Pertemuan di Darun Nadwah Makkah merekomendasikan agar Nabi dibunuh secara bersama-sama oleh pemuda musyrikin. Sewaktu Nabi menempuh hijrah ke Madinah, beliau disayembarakan untuk dibunuh. Ketika di Madinah, Nabi hendak dibunuh oleh orang Yahudi dengan rencana dilempar penggilingan gandum dari atap rumah. Beliau pernah diracun oleh seorang wanita Yahudi melalui daging yang dihadiahkan kepadanya. Beliau juga pernah disihir oleh dukun Yahudi. Kaum Muslimin mengalami makar berkali-kali dari Abdullah bin Ubay dan kawan-kawan. Begitu pula Yahudi membuat makar besar dengan menjadi sponsor utama pasukan al ahzab (semacam Sekutu multi nasional).


Islam menceritakan banyak fakta-fakta tentang makar. Khalifah Abu Bakar Ra. diganggu oleh Nabi palsu dan kaum murtadin (menolak membayar zakat). Khalifah Umar Ra. terbunuh karena konspirasi, begitu pula Khalifah Utsman Ra. dan Khalifah Ali Ra. Munculnya Khawarij dan Syi’ah juga bagian dari proses makar (konspirasi). Begitu pula Perang Salib melawan pasukan Nashrani Eropa, kehancuran Andalusia di Spanyol, penjajahan bangsa Eropa di Dunia Islam (Asia-Afrika), hancurnya Khilafah Islamiyyah Utsmaniyyah, munculnya negara-negara atas dasar nasionalisme, serta berdirinya Israel di Palestina, semua itu berbicara lugas tentang fakta besar: M A K A R !!!

Hingga pernah diceritakan, ketika Israel berhasil merebut Palestina, salah satu perwira pendukung Israel datang ke makam Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah. Disana dia mengejek Shalahuddin. Dia mengatakan, bahwa kemenangan Israel itu merupakan pembalasan atas kekalahan Barat dalam perang Salib. Jangan jauh-jauh, George Bush saja ketika menyerukan war against terrorism, dia mengklaim bahwa perangnya merupakan kelanjutan dari Crusade.


Jadi adalah sangat lucu kalau kita mengabaikan fakta konspirasi. Secara tekstual, ajaran Islam berbicara tentang hal itu. Dalam sejarah para Rasul As, sejarah Nabi Saw. dan Khulafaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum hal itu nyata terjadi. Begitu pula dalam sejarah Islam sejak awal sampai Turki Utsmani, bahkan sampai hari ini, makar terus diproduksi untuk merobohkan Islam.


Entah kita akan disebut Ummat sedungu apa, kalau mengingkari fakta konspirasi ini? Dan entah bagaimana lagi hendak menjelaskan, jika dalil-dalil segunung itu ditolak dengan alasan “teori orang malas”, bahkan “teori para pecundang”? Jangan-jangan orang yang mengatakannya sudah tidak beriman lagi? Na’udzubillah min dzalik.


Kalau kita tidak percaya dengan teori konspirasi, berarti kecerdasan kita sangat memprihatinkan. Kita tidak pernah berpikir secara logis, tetapi selalu mempercayai bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan. Ini sangat mengerikan!


Bukan Pemikiran Pecundang

Goenawan Mohamad mengklaim bahwa teori konspirasi adalah “teori orang malas”. Eep Saefulloh Fatah menambahkan lebih tajam, “teori para pecundang”. Ungkapan-ungkapan seperti ini menurut saya justru keliru. Orang-orang yang mempercayai teori konspirasi adalah mereka yang memiliki intelijensi lebih tinggi. Mereka tidak menerima begitu saja setiap informasi yang dipublikasikan. Mereka memikirkan kemungkinan terbalik dari apa yang tampak di permukaan.


Biasanya, kaum liberalis sebagai musuh-musush Islam selalu menolak dengan sinis teori konspirasi jika itu diajukan oleh kalangan Muslim. Konspirasi Israel-Neo-Con dibalik serangan 9/11, ditolak. Konspirasi RMS-Kristen Internasional-kekuatan-kekuata n Barat di balik kerusuhan Ambon-Poso, ditolak juga. Konspirasi IMF-Multinational Corporations-Barat Anti-Islam di balik kejatuhan Soeharto, ditolak. Konspirasi Kristenisasi Internasional-Bisnis Konglomerat-CSIS di balik gerakan pemurtadan umat Islam Indonesia, ditolak.


dunia intelijen, teori konspirasi menjadi madzhab utama. Anggota intelijen dibiasakan memikirkan segala sesuatu secara terbalik. Semua itu membutuhkan kekuatan berpikir yang tinggi. Tidak berlebihan jika dinas tersebut disebut intelligence; kumpulan orang-orang pintar.


Dalam skala internasional misalnya, pelaku terorisme selalu dialamatkan kepada gerakan Islam. Buktinya lebih dari 90 persen daftar Foreign Terorist Organization (FTO) adalah individu dan kelompok Muslim


Dari sisi lain, di dunia sangat banyak gerakan-gerakan politik yang bekerja secara konspiratif (gerakan bawah tanah). Hampir di setiap negara ada gerakan seperti itu, termasuk di Indonesia. Di antara mereka benar-benar murni gerakan bawah tanah, tidak pernah mengekspose diri ke permukaan. Contoh gerakan-gerakan yang bekerja secara rahasia: Macan Tamil Elam di Srilangka, MILF di Filipina, ANC di Afrika Selatan (dulu), IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, Quebec di Kanada, Jihad Islam di Palestina, Al Qa’idah di Irak, Hizbullah di Libanon, dll. Semua pengamat mengerti tentang realitas ini. Bahkan mencermati perkembangan politik tanpa memikirkan elemen-elemen seperti itu adalah nonsense. Kalangan Yahudi termasuk yang memiliki gerakan-gerakan under ground sangat militan. Termasuk organisasi mantel Yahudi seperti Freemasonry, Illuminati, Ksatria Templar, Rotary Club, Lions Club, dll. Begitu juga dalam bidang kriminalitas ada Mafia Sicilia, Mafia Rusia, Mafia China (Triad), Mafia Kolumbia, dll. Mereka bekerja saat orang lain tertidur, dan mereka tidur saat orang lain bekerja. Begitulah logikanya.



Dalam konpirasi global sekarang: Muslimin-lah yang menjadi pihak tertuduh. Hal ini disebabkan kesalahpahaman orang karena menilai Islam dari sepak terjang penganutnya. Padahal sejatinya Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang dan antikekerasan.



Mencuatnya isu terorisme tidak bisa hanya dipandang dalam konteks keindonesiaan semata. Karena isu terorisme yang dimotori oleh Amerika Serikat (AS) pasca runtuhnya gedung kembar WTC, adalah propaganda skala internasional yang sejatinya ditujukan untuk memberangus gerakan Islam khususnya gerakan Islam yang dianggap oleh AS akan mengancam eksistensi dirinya.


Jika ditelaah secara kritis ada grand strategy (konspirasi besar) yang sengaja disusun dengan rapi di balik isu terorisme ini. Tujuan utamanya adalah mencitraburukkan Islam sebagai agama barbarian yang tidak manusiawi serta mengajarkan kekerasan kepada umatnya.

Hasil akhir yang diharapkan adalah munculnya sentimen negarif dunia internasional kepada Islam dan yang lebih membahayakan lagi adalah memunculkan Islamphobia (rasa takut kepada Islam) di kalangan kaum Muslimin. Bisa dibayangkan kehancuran yang akan terjadi jika umat Islam sudah menunjukkan sikap antipati dan takut kepada agamanya sendiri.


Dalam politik juga begitu. Teori konspirasi banyak dipakai untuk membuat analisis politik. Medan politik adalah medan perang kepentingan; namun perang ini tidak memakai senjata dan amunisi. Ia adalah perang manuver-manuver politik untuk memperoleh akses politik sebesar-besarnya. Siapapun yang membuat manuver politik hanya berdasarkan kenyataan-kenyataan terbuka yang tampak di atas permukaan, dia akan gagal. Politik yang bekerja sesuai opini umum adalah politik orang awam, bukan politik cerdas yang efektif.



Namun kaum Muslimin jangan larut dalam rekayasa yang ingin mengaburkan makna jihad. Karena tidak kurang dari 24 kata jihad yang digunakan dalam Quran yang semuanya mengindikasikan bahwa jihad adalah aktifitas perang di jalan Allah, dengan tujuan untuk melawan semua bentuk kezaliman yang menyengsarakan manusia (baik muslim maupun non Muslim), meninggikan kalimat Allah, dan menyelamatkan dunia.


Singkat kata, teori konspirasi bukan “teori orang malas” atau “teori para pecundang”. Ia adalah teori yang menunjukkan level berpikir lebih tinggi dari standar orang biasa. Orang malas tidak akan sampai ke pemahaman teori konspirasi, apalagi para pecundang. Ungkapan Eep Saefulloh Fatah di atas adalah salah secara komprehensif. Ia lebih tampak seperti retorika tanpa arti.


Metode Sederhana

Secara umum, hakikat konspirasi itu nyata. Dengan berbagai cara Allah Ta’ala mengingatkan kita tentang bahaya konspirasi. “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kalian, maka jadikan ia musuh kalian. Sesungguhnya syaitan itu menyeru bala tentaranya untuk menjadi penghuni neraka sa’ir.” (Faathir: 6). Menolak konspirasi akan membawa kita mengkufuri ajaran Islam. (Meskipun tentu saja, ajaran Islam tidak hanya bicara soal konspirasi)


Dalam menyikapi sesama Muslim, kita tidak boleh memakai kerangka teori konspirasi. Ia hanya digunakan untuk menyikapi berbagai golongan anti Islam, apapun bentuk dan eksistensinya. Terhadap sesama Muslim yang dikenal baik komitmen kepada agamanya, berlaku prinsip husnuzhan (baik sangka).


Kepada non Muslim, sekularis, kalangan anti Islam, aliran sesat, dan orang-orang yang sudah terkenal kejahatannya, sudah sewajarnya kita su’uzhan. Su’uzhan dalam kondisi seperti itu tidak merugikan. Jika kita benar, maka kita terselamatkan dari bahaya mereka; jika kita salah, setidaknya sudah melakukan ikhtiar kewaspadaan. Seorang Muslim wajib waspada kepada semua elemen-elemen musuhnya.


Bagaimana kalau ada yang menyebut usaha kewaspadaan sebagai perbuatan “orang malas” atau “para pecundang”? Jawabnya sederhana: Orang yang mengatakan itu tidak mengerti ajaran Islam! Bahkan dia termasuk manusia polos yang percaya begitu saja setiap informasi yang bertebaran di masyarakat. Dan yang lebih memprihatinkan, logika berpikirnya tidak berjalan lancar. Betapa banyak kenyataan-kenyataan besar yang tak mampu dicarikan jawabannya melalui opini umum. Apakah semua itu terjadi karena kebetulan? (Jawaban Anda atas pertanyaan ini akan mencerminkan posisi keilmuwan dan wawasan Anda!).


Agar kita selalu mendapat petunjuk Allah Ta’ala dalam menyikapi berbagai realitas, hendaknya selalu taat kepada-Nya. “Wahai orang-orang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, maka Dia akan mengadakan bagimu furqan (pembeda antara al haq dan al bathil).” (Al Anfaal: 29).


Sebagai catatan terakhir, pemimpin Ikhwanul Muslimin di Mesir, Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah, beliau menjadikan materi ghazwul fikri (perang pemikiran) sebagai salah satu materi penting tarbiyah dakwahnya. Sebagaimana namanya, ghazwul fikri berarti kancah perang pemikiran. Sampai ada satu hikmah besar: “Bahwa kenyataan hidup yang dihadapi Ummat Islam kerap kali mengikuti jadwal konspirasi yang diterapkan atas mereka.


Apabila Barat merasa takut akan kebangkitan Islam, maka sudah seharusnya kita perlu mewaspadai konspirasi Barat dalam menghantam lajunya kebangkitan Islam yang sudah mulai tampak gejalanya diberbagai penjuru dunia. Sebagai orang Islam kita harus jeli dalam memandang masalah, termasuk bantuan-bantuan dari pihak asing. Kita pun harus memperjuangkan tegaknya Islam melalui hukum-hukum-Nya dengan sekuat tenaga menjaganya dan dalam hal ini selalu kita ingat akan janji Allah yang pasti akan memenangkan kaum muslimin walaupun musuh-musuh Islam sekuat tenaga mengalahkannya. Semoga kemenangan itu akan bisa kita lihat dalam waktu yang tak lama.


Akankah konspirasi menjadi musuh bersama kita yang akan kita perangi bersama-sama pula, ataukah tetap ada sebagian diantara kita tidak cukup dewasa untuk melepaskan kenikmatan dan kejayaan yang dijanjikannya, sepeti yang sekarang dinikmati oleh para liberalis sekuler...!!!

Dikumpulkan dari beberapa referensi.....

Ya Allah Sasikanlah....

Read More...

TETES-TETES AIR MATA TAUBAT

Tidak diragukan lagi, kita harus melakukan koreksi diri dan mengevaluasi kehidupan kita sebagai umat yang beragama Islam. Kita harus melihat kembali hakikat loyalitas kita terhadap agama yang lurus ini. Seberapa jauh ketaatan kita di jalan Allah, kita harus benar-benar rindu terhadap akhirat.

Kita harus mengangkat tinggi-tinggi keridhaan Dzat Allah yang Maha Tinggi, jangan sampai hilang dari pandangan kita, tujuan hakiki atas keberadaan kita di muka bumi ini yaitu ibadah kepada Allah, mengharap ridha-Nya, takwa kepada Allah. Selain hal itu, semuanya adalah tipu daya, mainan, perhiasan, pameran dan berlomba-lomba memperbanyak harta dan keturunan. (Penulis)

Sinopsis :

Taubat artinya adalah kembali, bersandar dan meminta perlindungan. Selain itu, taubat berarti menghindari sejauh-jauhnya dari perbuatan-perbuatan buruk yang dikhawatirkan terjadi di kemudian hari.

Dalam buku ini, penulis menuturkan kisah orang-orang yang bertaubat pada masa silam. Setelah itu, kisah mengenai orang-orang yang bertaubat dari ummat Nabi Muhammad Saw. Penulis berharap, pembaca bisa mengambil pelajaran dan segera bertaubat mengikuti jalan mereka serta merasa rindu mendengar kabar dari golongan mereka.

Satu kisah menarik dari buku ini adalah taubat yang dilakukan Nabi Adam As dan Siti Hawa setelah memakan pohon terlarang. Akibat mengikuti bisikan setan, Adam dan Hawa harus menanggung resiko. Mereka diturunkan ke bumi dan menjalani kehidupan yang penuh permusuhan.

Taubat Nabi Adam As dijalankan selama 200 tahun dengan menangisi kepergiannya dari surga. Akhirnya Allah mengirimkan salah satu tenda dari surga dan meletakkannya untuk Adam di tempat Ka’bah sebelum adanya Ka’bah, (halaman 84).

Kisah lainnya yakni taubat Tsa’lab khadim Rasulullah. Tsa’lab tanpa sengaja melihat seorang wanita dari kaum Anshar, yang sedang mandi. Ketidaksengajaan yang dilakukan Tsa’lab justru membawa ketakutan luar biasa. Akibatnya, Tsa’lab melarikan diri dari Rasulullah dan memohon ampunan dari Allah Saw.

Dalam kisah itu, disebutkan Tsa’lab beribadah kepada Allah dengan mengasingkan dirinya dari masyarakat dan terus berharap diterima taubatnya. Namun beban hati yang teramat berat meski Allah telah mengampuni dosanya, mengantar Tsa’lab hingga ajal menjemputnya, (halaman 206).

Deskripsi :

Banyak orang yang belum juga menyadari betapa ia harus segera bertaubat dan kembali pada Allah. Padahal usia semakin melaju dan sudah begitu banyak ‘teladan’ dari orang-orang yang terlambat bertaubat saat ajal datang menjemput. Taubat pun sia-sia.

Buku ini menghadirkan secuplik teladan tentang mereka yang segera sadar dan menyambut seruan untuk bertaubat. Mereka memberi teladan betapa saat bertaubat adalah saat yang tak mungkin engkau tunda-tunda lagi.

Bagi mereka yang merasa belum bertaubat setelah melakukan kesalahan, sebaiknya mulai membaca kisah yang disampaikan penulis. Dengan demikian, langkah ke depan akan menjadi lebih baik dan terhindarkan dari hal-hal yang merugikan kehidupan kita. Apalagi dalam kisah-kisah yang dituturkan penulis disertakan ayat-ayat suci yang mempertegas apa yang harus dilakukan manusia dan apa yang harus dijauhi umat muslim. Amin

Harga:Rp.45.000,-+ongkos kirim sesuai tarif pos "kilat khusus",klik di: http://www.posindonesia.co.id/tarif_skh.php , dr Jakarta Timur & transfer ke rek: BCA No: 6310141249. Konfirmasi via chat Yahoo Messenger/id/e-Mail : oase_bc@yahoo.co.id atau hp no: 0811841321. Dan jika anda membutuhkan informasi buku-buku lain dapat melalui chat via YM, silahkan klik ikon YM dibawah ini:
Read More...

KHADIJAH DAN AISYAH

Rasulullah Saw. Itu bagaikan intan pertama. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda - beda. Dalam satu segi beliau adalah manusia biasa seperti ini. Namun dalam segi ini beliau adalah seorang nabi penuh teladan yang membawa misi rahmatan lil’alamin. Karena posisinya ini yang maha kuasa memandu sejarah kehidupan beliau sedemikian rupa. Penampilan fisik, ucapan, perbuatan situasi zaman tempat dilahirkan hingga tahap - tahap kehidupan Rasulullah Saw. Penuh hikmah dan pembelajaran.

Sebagai teladan umat, aspek - aspek hidup manusia kebanyakan pernah beliau dijalani. Rasul pernah menjadi seorang suami,negarawan, panglima perang, pendidik, hakim dan lainnya. Dalam semua aspek kehidupan tersebut. Beliau selalu tampil sebagai yang terbaik.

Karena itu, tak terhitung tulisan yang mengangkat perjalanan hidup beliau, David Margoliouth mengatak ” Sungguh mustahil menghitung orang - orang yang pernah menulis tentang Muhammad. Adalah suatu kehormatan bagi mereka, jika dapat mencatatkan namanya diantara nama - nama yang pernah menulis tentang dirinya”.

Buku ini hadir untuk memotret sudut - sudut kehidupan Rasulullah Saw disajikan dalam bentuk penggalan kisah penuh hikmah, plus analisis di dalamnya. Tidak hanya sebagai seorang nabi dengan segala kehebatannya tapi juga sebagai seorang manusia biasa dengan dinamika emosinya.

Penulis pernah bertanya kepada seorang ulama tentang siapa sebenarnya Rasulullah itu. Apa jawabnya? Ternyata beliau tidak langsung menjawab dengan kata-kata, namun dengan deraian air mata. “Pribadi Nabi itu, terlampau indah untuk dilupakan,” ungkapnya kemudian. Dari sana, muncullah rasa penasaran penulis tentang siapa dan bagaimana Rasulullah saw semakin memuncak. Hasil rasa penasaran itu dijawab dengan lahirnya buku ini. Gambaran Isi Buku ini:


“Mustahil bagi siapa pun yang mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad saw., hanya mempunyai perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga meyakini bahwa beliau adalah nabi terbesar yang diturunkan Sang Pencipta.” (Annie Besant)


Itu adalah gambaran Annie Besant tentang pribadi Rasulullah. Buku ini menceritakan kisah-kisah Rasulullah saw secara renyah, tidak seberat sirah-sirah nabawiyah pada umumnya, meskipun sumber dari kisah-kisah di dalamnya juga berasal dari sirah tersebut. Penulisnya memotretnya dengan apik dalam bentuk kapsul kisah yang singkat, padat, analitis, dan bermakna mendalam.

Sungguh, Rasulullah itu bagaikan intan permata. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda, namun tetap indah. Eman Sulaiman, penulis buku ini meramunya perjalanan kisah Rasulullah ini dengan cantik sehingga mudah dicerna oleh siapa pun yang membacanya.



Kapsul kisah-kisah ini mengajak Merenungkan kembali kualitas “keakraban” kita dengan Rasulullah saw., tampaknya menjadi agenda penting untuk kita lakukan. Jangan-jangan nama beliau seringkali kita sebut, tapi hanya di mulut saja, tidak keluar dari hati yang penuh cinta. Jangan-jangan kita sering membaca dan mendengar sabdanya, tapi sesering itu pula kita mengabaikannya. Jangan-jangan kita rajin bershalawat kepadanya, tapi aktivitas kita jauh dari yang beliau ajarkan. Jangan-jangan kita bekerja, tapi cara kita bekerja melenceng jauh dari yang beliau gariskan. Kita berkeluarga, tapi cara kita berkeluarga malah meniru orang-orang yang memusuhi beliau. Kita berjual-beli, tapi cara kita berjual beli jauh dari yang beliau contohkan. Jangan-jangan Rasulullah saw. sekadar hadir dalam shalat, saat kita di masjid, atau ketika kita melangsungkan ijab kabul pernikahan. Di luar itu, beliau adalah orang asing. Telahkah kita meneladaninya dengan sempurna?

Selamat merenung dan menikmati buku ini.


Harga:Rp.75.000,-+ongkos kirim sesuai tarif pos "kilat khusus",klik di: http://www.posindonesia.co.id/tarif_skh.php , dr Jakarta Timur & transfer ke rek: BCA No: 6310141249. Konfirmasi via chat Yahoo Messenger/id/e-Mail : oase_bc@yahoo.co.id atau hp no: 0811841321. Dan jika anda membutuhkan informasi buku-buku lain dapat melalui chat via YM, silahkan klik ikon YM dibawah ini:
Read More...